Ripple mengumumkan ekspansi Ripple Payments menjadi platform end-to-end yang komprehensif karena adopsinya terus berkembang.
Pengumuman ini disampaikan di tengah menurunnya likuiditas XRP (XRP) di Binance, sebuah perkembangan yang mungkin memperbesar volatilitas harga jika terjadi arus modal besar.
Sebagai informasi, Ripple Payments merupakan infrastruktur pembayaran global berbasis blockchain yang menghubungkan lembaga keuangan untuk memindahkan dana dengan cepat, aman, dan biaya rendah melalui XRP Ledger (XRPL). Sekarang, platform ini memungkinkan pelanggan untuk melakukan pengumpulan, menyimpan, mengonversi, dan pembayaran dalam fiat maupun stablecoin di dalam satu sistem yang terintegrasi sehingga mereka tidak perlu lagi berkoordinasi dengan berbagai penyedia jasa.
Menurut Ripple, ekspansi ini memanfaatkan akuisisi terbaru mereka terhadap Palisade dan Rail, perusahaan yang mereka akuisisi senilai US$200 juta. Dengan kemampuan ini, klien dapat membuat akun virtual dan wallet atas nama sendiri, mengotomatisasi arus pengumpulan dana, serta melakukan settlement tanpa perlu berpindah penyedia layanan.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Perusahaan melaporkan bahwa Ripple Payments telah memproses volume total lebih dari US$100 miliar dan saat ini beroperasi di lebih dari 60 pasar. Ripple sudah memegang lebih dari 75 lisensi global, termasuk New York Department of Financial Services Trust Company Charter.
Klien ternama seperti AMINA Bank di Swiss, AltPayNet di Filipina, Banco Genial di Brasil, CambioReal, Corpay, MassPay, dan ECIB di Malaysia, menunjukkan kepercayaan institusional terhadap Ripple Payments.
Walaupun produk Ripple terus maju, XRP masih menghadapi tantangan. Menurut analis yang mengutip data CryptoQuant, Indeks Likuiditas XRP Binance 30 Hari turun ke 0,097 dengan tingkat pergantian sebesar 7,02 miliar XRP.
Penurunan ini sangat mencolok dibandingkan tahun 2022 sampai 2024, saat tingkat pergantian berada di kisaran 180 hingga 240 miliar XRP dan indeks likuiditas pernah menyentuh angka 3.
Menurut analis itu, penurunan dimulai pada 2025 dan masih berlanjut hingga 2026. Ini mencerminkan berkurangnya aktivitas perdagangan atau adanya pergeseran likuiditas dari Binance ke platform lain.
Lalu mengapa hal ini penting? Lingkungan likuiditas rendah meningkatkan volatilitas harga. Jika token yang beredar sedikit, pergerakan modal besar bisa memicu lonjakan harga yang tajam.
namun, likuiditas yang menurun bukan berarti harga akan melemah; kondisi ini justru membuat pasar lebih sensitif terhadap perubahan permintaan. Analis itu memaparkan bahwa dengan kondisi sekarang, pasar berada dalam fase menunggu. Jika terjadi rebound pada tingkat pergantian, bisa saja akan terjadi “perubahan signifikan dalam dinamika harga.”
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan langsung pemimpin & jurnalis memberikan insight pakar


