Pergerakan harga Bitcoin kembali mendekati level US$70.000, namun dinamika pasar kripto saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz yang mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dunia mendorong harga minyak melonjak di atas US$77 per barel dan memicu tekanan baru di pasar keuangan global.
Dalam kondisi ini, Bitcoin yang diperdagangkan di kisaran US$69.500 dinilai bukan lagi faktor utama penggerak pasar. Sebaliknya, aset kripto terbesar tersebut menjadi bagian dari reaksi pasar terhadap guncangan makro yang dipicu oleh krisis energi dan risiko inflasi.
Dilaporkan Crypto Quant, penutupan jalur strategis Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya logistik global dan memperkuat tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) semakin kecil dalam waktu dekat.
Tanpa katalis berupa pelonggaran kebijakan moneter, analis menilai fase pasar bearish berpotensi bertahan lebih lama. Faktor makro ini saat ini menjadi variabel utama yang membatasi pemulihan harga aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Menurut Tim Research Tokocrypto, kalau premium AS tetap negatif, reli cenderung rapuh dan lebih reaktif ke headline makro dibanding arus struktural.
“Trigger pembalikan tren yang lebih nyata kemungkinan butuh kombinasi stabilisasi geopolitik + kelegaan ekspektasi rate cuts,” jelasnya.
Baca juga: Michael Saylor Tambah 3.015 BTC, Borong di Harga Bitcoin Diskon
Di tengah tekanan makro tersebut, data on-chain menunjukkan arus masuk stablecoin sebesar US$2,06 miliar dalam sepekan terakhir. Rinciannya meliputi USDT sebesar US$1,06 miliar, USDC US$993 juta, dan DAI sekitar US$4,1 juta.
Meski terlihat signifikan, jumlah tersebut dinilai masih terlalu kecil untuk memicu reli pasar secara mandiri. Selain itu, indikator Coinbase Premium Index berada di level negatif -0,0276, menandakan minimnya permintaan dari investor institusi di Amerika Serikat.
Sementara itu, arus dana ke ETF Bitcoin spot di AS tercatat sekitar US$787,4 juta. Namun sebagian besar aliran dana ini terjadi sebelum eskalasi konflik, sehingga saat ini ETF lebih berfungsi sebagai penahan tekanan jual dibanding pendorong kenaikan harga.
Data on-chain juga menunjukkan perbedaan perilaku antara kelompok investor. Indikator Coin Days Destroyed yang mencapai 10,03 juta menandakan bahwa pemegang jangka panjang (long-term holders) belum melakukan aksi jual signifikan. Kelompok ini justru dianggap sebagai penopang struktural pasar.
Di sisi lain, indikator Exchange Whale Ratio berada di level 0,53 yang mengindikasikan potensi tekanan jual dari investor besar di area resistance US$70.000.
Pelaku pasar kini memantau level support penting di US$64.000, sementara area US$60.000 menjadi zona perlindungan kuat dari pasar opsi atau dikenal sebagai “put wall”.
Ke depan, arah pasar kripto diperkirakan tetap bergantung pada dua faktor utama, yakni stabilitas geopolitik dan meredanya tekanan inflasi global. Tanpa perubahan pada kedua faktor tersebut, potensi pembalikan tren besar pada Bitcoin dinilai masih terbatas dalam waktu dekat.
Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Harga Bitcoin Dekati US$70.000, Konflik Timur Tengah Jadi Penentu Arah appeared first on Tokocrypto News.

