Indeks saham acuan Korea Selatan mencatat penurunan harian terdalam dalam sejarah, karena ketegangan geopolitik akibat konflik AS-Israel-Iran yang meluas mengguncang pasar.
Meski saham anjlok, para trader tetap fokus pada listing token baru di exchange kripto, dengan token-token baru yang baru saja terdaftar mencatat kenaikan dua digit walaupun sentimen pasar secara umum memburuk tajam.
Berdasarkan data Google Finance, Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) anjlok lebih dari 12% pada hari Rabu. Selain itu, Korea Securities Dealers Automated Quotations (KOSDAQ) mencatat kerugian melebihi 10%.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan update berita terbaru secara langsung
Channel News Asia melaporkan bahwa Bursa Efek Korea menghentikan perdagangan sementara pada Rabu pagi setelah baik indeks KOSPI maupun KOSDAQ turun lebih dari 8%.
Selain Korea Selatan, pasar saham Jepang, Hong Kong, dan Cina juga turun pada hari Rabu, terutama karena meningkatnya ketegangan global. Krisis yang sedang berlangsung ini mengakibatkan lonjakan tajam harga minyak. Sementara itu, penutupan Selat Hormuz semakin memperkuat kekhawatiran pasar.
Ekonomi Asia sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Banyak negara di kawasan ini sangat bergantung pada impor minyak mentah dari negara-negara Teluk.
Jepang dan Korea Selatan sangat terpapar risiko ini. Sebesar 87% konsumsi energi Jepang dan 81% konsumsi energi Korea Selatan berasal dari bahan bakar fosil impor.
Penurunan terbaru di KOSPI terjadi setelah pelemahan 7,2% pada hari Selasa, menandai performa terburuk dua hari terakhir dalam beberapa dekade. Kini indeks ini semakin mendekati level 5.000, yang memiliki makna simbolis lebih dari sekadar angka bulat.
Dalam pemilu kali ini, Presiden Lee Jae-myung menyoroti visinya “KOSPI 5.000” dan berjanji untuk mengangkat pasar saham.
Menariknya, pada hari perdagangan terakhir sebelum pemilu presiden tanggal 3 Juni, KOSPI ditutup di 2.698,97. Dalam delapan bulan berikutnya, indeks ini melonjak sekitar 85% dan untuk pertama kalinya melewati level 5.000 pada Januari 2026.
Reli pasar saham ini berdampak nyata terhadap dunia kripto. Ketika saham naik, likuiditas investor retail Korea berpindah dari aset kripto, dengan banyak yang mengalihkan dana mereka ke saham.
BeInCrypto melaporkan bulan November lalu bahwa volume perdagangan kripto turun lebih dari 80%. Selain itu, berdasarkan Laporan Stabilitas Keuangan Bank of Korea, perputaran pasar kripto di Korea mencapai 157%, dibandingkan dengan angka global sebesar 112%, karena investor retail semakin mengejar keuntungan jangka pendek.
Penurunan pada saham ini sangat kontras dengan perkembangan sektor aset digital di Korea Selatan. Sementara saham jatuh, altcoin baru di exchange Korea Selatan justru mencatat permintaan yang besar.
CoinGecko menyoroti bahwa token EDGE dari Definitive Finance mengalami kenaikan signifikan setelah listing di Upbit.
Selain itu, token CFG dari Centrifuge reli sebesar 21,6% usai listing di Bithumb. Performa token-token ini menunjukkan bahwa investor kripto Korea Selatan tetap punya minat pada aset digital, bahkan ketika pasar tradisional merugi.
Meski begitu, belum jelas apakah antusiasme ini akan bertahan. Listing di exchange seringkali memicu lonjakan antusiasme dan volume di awal yang bisa mengerek harga, terlepas dari sentimen pasar secara keseluruhan.
Pertanyaan utama adalah apakah kenaikan ini benar-benar mencerminkan pergeseran dari saham ke aset kripto, atau hanya didorong oleh spekulasi jangka pendek. Selain itu, jika aksi jual di KOSPI semakin dalam dan sentimen investor ritel Korea menjadi sangat negatif, modal yang sebelumnya beralih ke saham belum tentu otomatis kembali ke aset kripto. Suasana risk-off yang berkelanjutan bisa menahan arus masuk pada kedua kelas aset tersebut.


