Cryptoharian – Kondisi terbaru sektor penambangan Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Hal ini disampaikan oleh Founder dari Alphractal, Joao Wedson melalui akun X-nya pada Jumat (20/3/2026).
Berdasarkan pengamatannya, penurunan momentum ini bisa menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan Bitcoin (BTC) dalam waktu dekat.
“Sejak awal tahun, sektor penambangan belum mengalami kapitulasi penuh. Namun tak lama setelah itu, harga Bitcoin turun tajam dari sekitar US$ 96.000 dan US$ 60.000,” ungkap Wedson.
Meskipun sempat pulih, kini hash rate kembali melemah.
Wedson menjelaskan, penurunan hash rate menunjukkan adanya mesin mining (ASIC) yang dimatikan atau tidak beroperasi di berbagai perusahaan.
Dengan kata lain, total keuangan jaringan (hash power) sedang mengalami penurunan.
Hal ini biasanya terjadi jika:
Dua Skenario untuk Penambang
Menurut Wedson, saat ini sektor penambangan menghadapi dua kemungkinan arah, yakni
1. Inovasi Hardware
Perusahaan dapat mengembangkan ASIC baru yang lebih efisien dan hemat energi. Namun, opsi ini cukup sulit karena banyak perusahaan sudah melakukan investasi besar pada periode 2023-2024.
2. Pengurangan Kapasitas
Penambang bisa memilih mengurangi hash rate untuk bertahan, yang berpotensi memicu konsolidasi industri.
Baca Juga: DeFi Bergerak Cepat, Ini Rangkuman Perkembangan Terbarunya
Resiko Tekanan Jual
Salah satu dampak utama dari konsolidasi ini adalah potensi peningkatan tekanan jual Bitcoin. Secara historis, saat penambang mengalami tekanan atau memasuki fase kapitulasi, mereka cenderung:
Hal ini bisa memberikan tekanan tambahan pada harga di pasar.
Kendati demikian, Wedson juga menegaskan bahwa penambang merupakan salah satu pelaku pasar yang paling tangguh.
“Mereka sudah terbiasa menghadapi siklus ekstrem, termasuk penurunan harga bahkan 70 hingga 80 persen dalam fase bear market,” ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, metrik on-chain terkait penambangan menjadi faktor penting untuk membaca kondisi pasar secara lebih luas.
Sinyal Sudah Terlihat Sejak 2025
Wedson juga menambahkan bahwa tanda-tanda tekanan di sektor penambangan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 2025.
Saat itu, berbagai indikator menunjukkan adanya stres dalam sistem, yang kemudian diikuti oleh puncak siklus harga dan peralihan ke fase bearish.
Ke depan, ia berpendapat agar analis dan investor lebih memperhatikan dinamika sektor penambangan.
“Perubahan dalam hash rate dan perilaku penambang sering kali menjadi indikator awal untuk mengidentifikasi titik puncak pasar dan menangkap peluang di fase berikutnya,” pungkas Wedson.


