Swan Bitcoin mengajukan permohonan ex parte di Distrik Selatan New York untuk meminta izin pengadilan memanggil Cantor Fitzgerald dan mantan CEO-nya yang kini menjabat Menteri Perdagangan, Howard Lutnick.
Permintaan penemuan fakta tersebut, yang diajukan berdasarkan 28 U.S.C. § 1782, ditujukan untuk mendukung proses hukum di luar negeri terhadap direktur 2040 Energy yang ditunjuk oleh Tether. 2040 Energy adalah usaha pertambangan bersama antara Swan dan Tether. Para direktur tersebut termasuk Ketua Tether Giancarlo Devasini dan CEO Bitfinex JL van der Velde.
Swan dan Tether membentuk 2040 Energy sebagai usaha patungan untuk menambang Bitcoin (BTC). Tether menyediakan pendanaan, sedangkan Swan mengelola operasional. Tapi, pada pertengahan 2024, kemitraan ini tiba-tiba runtuh secara dramatis.
Berdasarkan dokumen yang diajukan oleh Swan, saat itu CIO Swan Raphael Zagury dan Zachary Lyons yang kini menjabat CIO di Tether diam-diam bersekongkol dengan penerbit stablecoin tersebut untuk meruntuhkan peran Swan di usaha patungan itu.
Catatan perencanaan yang ditemukan di server perusahaan Swan diduga memuat detail mengenai rencana pengunduran diri massal yang akan dilakukan secara terkoordinasi dengan dukungan hukum dari Tether seperti disebutkan dalam dokumen pengajuan itu.
Pada 8 Agustus 2024, tiga belas pegawai Swan mengundurkan diri hanya dalam hitungan jam. Swan mengklaim ribuan dokumen rahasia diunduh dari sistem mereka. Beberapa hari kemudian, Tether menggantikan Swan dengan Proton Management, entitas baru yang diisi oleh para pegawai yang membelot tadi.
CEO Swan, Cory Klippsten, lalu dicopot dari jabatan CEO 2040 Energy. Pada Desember 2024, para direktur yang ditunjuk Tether pun menyetujui penjualan aset pertambangan 2040 Energy kepada anak perusahaan Tether dalam transaksi yang disebut Swan jauh di bawah nilai wajar.
Panggilan pengadilan ini menargetkan Cantor Fitzgerald dan Lutnick karena diduga terlibat langsung dalam rangkaian kejadian tersebut. Dokumen Swan menyebut, beberapa minggu sebelum pengunduran diri massal, Devasini memperkenalkan Klippsten kepada Lutnick untuk membahas rencana IPO Swan.
Swan lalu membagikan data pertambangan rahasia dan dokumen IPO mereka ke Cantor.
Setelah pengunduran diri massal itu, Cantor tiba-tiba memutuskan kontak dengan Swan tanpa penjelasan, menurut dokumen tersebut.
Setelah itu, Cantor menjadi bank investasi dalam sejumlah transaksi terkait Tether. Termasuk bertugas sebagai agen penempatan untuk investasi Tether di Rumble dan menyediakan kendaraan SPAC untuk Twenty One Capital (XXI), perusahaan treasury Bitcoin yang kini tercatat di NYSE.
Zagury dan Lyons, yang juga tercantum dalam dokumen pengajuan, kini menjabat sebagai direktur yang ditunjuk Tether di Twenty One Capital. Jack Mallers memimpin Twenty One sebagai CEO.
Dokumen pengajuan itu juga memunculkan catatan Klippsten dari percakapan dengan Devasini. Berdasarkan catatan tersebut, Devasini memberi tahu Klippsten bahwa Lutnick, yang saat itu masih warga sipil, mengaku telah berusaha menggagalkan setiap RUU stablecoin di Kongres dan pada dasarnya sepenuhnya bekerja untuk Tether.
Dokumen UCC publik pada Oktober 2025 menunjukkan Tether menjadi agen jaminan untuk seluruh aset Dynasty Trust A, trust keluarga Lutnick yang memegang mayoritas saham Cantor.
Bloomberg baru-baru ini melaporkan bahwa trust tersebut meminjam sejumlah dana yang tidak diungkapkan dari Tether untuk membiayai akuisisi saham kepemilikan Lutnick ketika ia melepaskan aset guna mematuhi aturan etika federal.
Pemanggilan pengadilan ini mempertebal sengketa hukum antara Swan dan Tether yang sudah melebar ke mana-mana. Tether sebelumnya sudah membantah semua tuduhan pelanggaran.
Keputusan atas permohonan ini bisa menentukan apakah Swan bisa memperoleh akses ke komunikasi Cantor dengan Tether dan afiliasinya, yang mungkin membuka fakta baru tentang hubungan finansial di balik konflik tersebut.
