Cryptoharian – Perjalanan Bitcoin (BTC) untuk kembali ke harga tertinggi sepanjang masa (ATH) kemungkinan tidak akan cepat. Justru, semuanya sangat bergantung pada seberapa dalam penurunan yang terjadi di siklus saat ini.
Data historis menunjukkan pola yang cukup konsisten. Semakin dalam koreksi yang dialami Bitcoin, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih. Bahkan, setiap tambahan penurunan sekitar 10 persen bisa memperpanjang waktu recovery secara signifikan.
Saat ini, Bitcoin sudah terkoreksi hampir 50 persen dari puncaknya di US$ 126.000 pada 2025. Jika titik terendah sudah terbentuk di sekitar US$ 60.000, maka proses pemulihan kemungkinan masih membutuhkan beberapa bulan ke depan.
Namun masaalahnya, belum ada kepastian bahwa bottom sudah benar-benar tercapai.
Sinyal Bottom Belum Terbentuk
Beberapa indikator on-chain menunjukkan bahwa pasar mungkin belum mencapai fase kapitulasi penuh. Salah satunya adalah indeks gabungan yang mengukur profit, valuasi dan sentimen pasar.
Dalam siklus sebelumnya, titik bottom biasanya terbentuk saat indikator ini turun ke level tertentu. Saat ini, posisinya masih berada di atas zona tersebut, yang berarti ruang penurunan masih terbuka
Dengan kata lain, pasar mungkin belum ‘cukup sakit’ untuk membentuk dasar yang kuat.
Baca Juga: Morgan Stanley Siap ‘Adu Mekanik’ dengan BlackRock Soal ETF Bitcoin
Tekanan dari Pemain Besar
Di sisi lain, data aliran dana menunjukkan bahwa pemain besar justru mulai menjual dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan jual ini menjadi salah satu faktor yang membuat harga sulit untuk benar-benar pulih.
Selain itu, dari sisi likuiditas, pasar juga belum sepenuhnya sehat. Baik di spot maupun futures, aliran dana terlihat melemah, yang membuat kenaikan harga menjadi kurang kuat.
Jika Bitcoin kembali turun lebih dalam, misalnya ke area US$ 40.000 – US$ 45.000, maka proses pemulihan bisa menjadi jauh lebih panjang.
Dalam skenario seperti ini, waktu untuk kembali ke ATH bisa mundur hingga tahun 2027. Ini bukan hal yang aneh jika melihat pola siklus sebelumnya, di mana fase pemulihan memang selalu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Di luar faktor teknikal dan on-chain, kondisi makro juga memainkan peran penting. Kebijakan suku bunga, inflasi, dan kondisi global akan sangat memengaruhi aliran likuiditas ke aset seperti Bitcoin.
Jika suku bunga tetap tinggi lebih lama dari yang diharapkan, maka pemulihan Bitcoin bisa semakin tertahan.

