Institusi besar kini menggunakan kripto dengan akses yang dikontrol. Banyak perusahaan finansial besar memakai sistem on-chain untuk repo, aktivitas treasury, dInstitusi besar kini menggunakan kripto dengan akses yang dikontrol. Banyak perusahaan finansial besar memakai sistem on-chain untuk repo, aktivitas treasury, d

Ekonomi On-Chain Sedang Terbelah Menjadi Dua

2026/04/01 18:00
durasi baca 5 menit
Untuk memberikan masukan atau menyampaikan kekhawatiran terkait konten ini, silakan hubungi kami di [email protected]

Institusi besar kini menggunakan kripto dengan akses yang dikontrol. Banyak perusahaan finansial besar memakai sistem on-chain untuk repo, aktivitas treasury, dan manajemen kas di lingkungan yang dibangun khusus agar patuh aturan serta berbasis perizinan. Sementara itu, public DeFi masih menawarkan likuiditas, pasar non-stop, dan keuangan yang bisa diprogram. Pada tahun 2026, dua sistem ini mulai saling terhubung.

Pengaturan ini menciptakan pasar on-chain dengan pengguna, alat, dan prioritas yang berbeda-beda. Jaringan berbasis izin memberi institusi kendali dan pengawasan, sedangkan public chain menawarkan likuiditas dan aplikasi yang tetap ingin dijangkau institusi.

Tokenisasi treasury juga semakin populer sebagai aset berisiko rendah untuk modal yang patuh aturan, namun penyelesaian lintas negara tetap bergantung pada kemampuan sistem hukum dan kepatuhan untuk bekerja di berbagai yurisdiksi. Pengguna ritel masuk lewat aplikasi fintech untuk mengakumulasi aset, sementara holder kripto sebelumnya kini lebih fokus menjaga nilai aset mereka.

Untuk menelusuri ke mana arah perkembangan ini, BeInCrypto berbincang eksklusif dengan Federico Variola, CEO Phemex, Fernando Lillo Aranda, Direktur Marketing di Zoomex, dan Pauline Shangett, CSO di ChangeNOW.

Permissioned Chain Tetap Butuh Likuiditas Publik

Koneksi TradFi ke public DeFi terbentuk lewat gerbang yang terkontrol. Institusi ingin akses ke likuiditas on-chain dan settlement, namun mereka juga membutuhkan pemeriksaan identitas, izin, serta kendali kepatuhan. Akibatnya, pasar kini membangun sistem tempat peserta yang teregulasi bisa beroperasi di lingkungan terbatas tapi masih terhubung ke public chain.

Shangett menyampaikan bahwa jurang antara jaringan institusi privat dan open DeFi saat ini mulai berubah ke model yang lebih terhubung. Ia berpendapat:

Avalanche jadi salah satu contoh. Upaya Evergreen lewat Spruce telah mereka gunakan dalam pengujian tokenisasi, sementara Avalanche Warp Messaging memungkinkan komunikasi antar lingkungan berbasis Avalanche. ZKsync juga mengusung ide serupa lewat sistem enterprise yang terhubung ke Ethereum.

Hasilnya, pasar memunculkan skema di mana institusi bisa terhubung dengan aset kripto publik tanpa harus kehilangan kontrol atas akses, pihak lawan transaksi, dan tata kelola.

Tokenized Treasuries Menjadi Tolak Ukur, tapi Bukan untuk Semua Orang

T-bills ter-tokenisasi dan obligasi pemerintah kini menjadi aset acuan untuk modal on-chain yang patuh aturan. Pada akhir Maret 2026, pasar US Treasury ter-tokenisasi sudah mencapai sekitar US$12,31 miliar, sehingga kategori ini punya bobot nyata di pasar aset digital.

Variola melihat hal ini sebagai tanda kuat perkembangan DeFi:

Bagi dana investasi, treasury, serta investor patuh regulasi lainnya, utang pemerintah ter-tokenisasi menawarkan aset berisiko rendah yang familiar, tetapi bisa memberikan imbalan dan mudah ditransfer.

Shangett pun setuju, namun ia menjelaskan bahwa tolok ukur ini melayani segmen pasar tertentu:

Menurutnya, treasury ter-tokenisasi menjadi acuan modal yang sudah teregulasi, sedangkan pengguna DeFi ritel lebih mengandalkan tingkat imbalan pinjaman stablecoin dan pasar uang yang permissionless.

Penyelesaian lintas negara tetap menghadapi tantangan yang sama setiap kali dana berpindah yurisdiksi. Token bisa berpindah seketika, tetapi kondisi hukum dan operasional tidak bisa. Setiap negara punya aturan berbeda terkait kustodi, pengungkapan, pembatasan transfer, dan kepatuhan. Akibatnya, settlement secara teknis dan keabsahan hukum tak selalu terjadi bersamaan.

Lillo Aranda menegaskan tantangan utama datang dari luar kecepatan blockchain:

Pernyataan tersebut menyoroti inti masalah. Teknologinya sudah siap untuk settlement secara terus-menerus, namun lingkungan operasionalnya masih bergantung pada aturan nasional dan standar yang terfragmentasi.

Shangett juga mengemukakan hal yang serupa. Menurutnya, tantangan terberat adalah membuat negara dan sistem keuangan bersedia menerapkan aturan yang kompatibel di waktu yang sama.

Bagi keuangan on-chain, hal ini membuat settlement lintas negara berada di posisi sulit. Transfer terus-menerus memang mungkin dilakukan, tapi settlement yang teregulasi secara terus-menerus di banyak yurisdiksi masih jauh lebih sulit untuk dijalankan.

Retail Sedang Akumulasi Sementara OG Sedang Menjaga Aset

Pengguna aset kripto ritel sekarang masuk pasar dengan pola pikir yang berbeda dari generasi holder pertama. Siklus sebelumnya menghadiahi mereka yang percaya dan tahan volatilitas, sedangkan siklus saat ini mendorong pembangunan portofolio secara konsisten lewat aplikasi fintech, pembelian berkala, dan produk imbal hasil yang mudah diakses.

Shangett menuturkan bahwa perbedaan ini muncul karena insentif yang berubah

Satu kelompok membangun posisi secara bertahap lewat aplikasi arus utama. Yang lain lebih fokus menjaga kekayaan dan mengurangi volatilitas. Pada 2026, aset kripto ritel terbagi antara akumulasi dan preservasi.

Kesimpulan Akhir

Lembaga keuangan ingin punya akses terkendali ke likuiditas publik. Tokenisasi obligasi negara kini mulai jadi acuan bagi modal yang patuh aturan, sedangkan settlement lintas negara masih ditentukan oleh apakah sistem hukum dan operasi bisa berjalan bersama di banyak yurisdiksi secara berkesinambungan.

Para ahli dalam artikel ini menyimpulkan hal yang sama dari sudut pandang berbeda.

  • Federico Variola melihat obligasi pemerintah yang ditokenisasi sebagai bukti bahwa pasar DeFi kini sudah lebih matang dan fokus pada preservasi serta imbal hasil.
  • Fernando Lillo Aranda menilai tantangan utama di keuangan lintas negara adalah interoperabilitas hukum dan operasional, bukan kecepatan blockchain. 
  • Pauline Shangett menggambarkan pasar di mana jaringan permissioned dan DeFi publik saling terhubung lewat akses terkendali, sedangkan pengguna institusional dan ritel tetap menempuh jalur masing-masing.

Pada 2026, sistem keuangan on-chain yang terbentuk melayani beragam modal dengan cara berbeda-beda.

Kripto publik menawarkan likuiditas dan kemampuan komposisi. Keuangan teregulasi membawa tata kelola, kepatuhan, dan aset berisiko rendah yang sudah akrab. Titik temu di antara keduanya bertumpu pada koneksi yang menghubungkan sistem satu dan lainnya.

Peluang Pasar
Logo LETSTOP
Harga LETSTOP(STOP)
$0.01053
$0.01053$0.01053
-0.94%
USD
Grafik Harga Live LETSTOP (STOP)
Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.

Dagang GOLD, Raih 1 Juta

Dagang GOLD, Raih 1 JutaDagang GOLD, Raih 1 Juta

0 biaya, hingga leverage 1.000x, likuiditas dalam