Cryptoharian – Prediksi harga Bitcoin (BTC) turun drastis hingga US$ 10.000 kembali memicu perdebatan di kalangan analis. Analis komoditas Bloomberg, Mike McGlone, tetap pada pandangannya meski banyak pihak menyebut prediksi tersebut tidak masuk akal.
McGlone menilai bahwa Bitcoin berpotensi mengalami penurunan tajam sebagai bagian dari siklus pasar yang lebih luas, termasuk kemungkinan koreksi besar di pasar saham.
McGlone menjelaskan bahwa prediksinya didasarkan pada pola mean reversion yang umum terjadi di pasar komoditas. Ia mencontohkan pergerakan harga minyak mentah yang sering turun dari US$ 120 ke US$ 40 dalam satu siklus.
Dengan pendekatan serupa, ia memperkirakan Bitcoin bisa jatuh ke level US$ 10.000, terutama jika pasar saham seperti SnP 500 mengalami koreksi 50 hingga 60 persen.
“Bitcoin memiliki volatilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan indeks saham dan menghadapi persaingan tanpa batas dari ribuan aset kripto lainnya, sehingga sulit diposisikan sebagai penyimpan nilai yang stabil,” ungkap McGlone.
Namun, analis Dave Weisberger menolak prediksi tersebut dengan alasan matematis. Ia menyoroti bahwa pada 2022, ketika terjadi krisis besar termasuk runtuhnya FTX, harga Bitcoin hanya turun hingga sekitar US$ 16.000.
Dengan jumlah uang beredar yang kini meningkat sekitar 50 persen dibanding saat itu, Weisberger memperkirakan titik terendah realistis Bitcoin berada di kisaran US$ 25.000 hingga US$ 30.000.
Baca Juga: Apa yang Terjadi di Pasar Kripto Saat Donald Trump Lemparkan Ancaman Deadline pada Iran?
Ia menegaskan bahwa satu-satunya skenario yang bisa mendorong Bitcoin ke US$ 10.000 adalah jika mayoritas pemegang percaya bahwa Bitcoin akan gagal total.
“Tanpa narasi besar seperti ancaman teknologi quantum yang benar-benar merusak kriptografi, sangat sulit melihat Bitcoin jatuh sedalam itu,” ujarnya.
Weisberger bahkan menyebut prediksi US$ 10.000 sebagai “clickbait”, meskipun ia mengakui arah prediksi penurunan masih mungkin terjadi.
McGlone mengaitkan prediksinya dengan kemungkinan terjadinya deflasi global. Ia memperkirakan inflasi bisa berubah menjadi negatif dalam waktu dekat, meniru kondisi Jepang selama puluhan tahun atau krisis properti di China dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 300 persen.
Dalam skenario ini, pasar saham dinilai tidak akan mampu bertahan, dan aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi mengalami tekanan besar.
Namun, pandangan ini juga mendapat kritik. Investor James Lavish menilai bahwa sistem ekonomi global justru memiliki kecenderungan untuk terus mencetak uang guna menghindari resesi panjang.
Menurutnya, kebijakan moneter akan selalu diarahkan untuk menjaga pertumbuhan, bukan membiarkan deflasi berkepanjangan terjadi.
Data kuartal pertama 2026 menunjukkan pola menarik di pasar Bitcoin. Investor individu tercatat menjual sekitar 62.000 BTC, sementara institusi justru melakukan akumulasi. Perusahaan membeli sekitar 69.000 BTC, pemerintah menambah 25.000 BTC, dan ETF mengakumulasi sekitar 3.000 BTC.
