Cryptoharian – Upaya manipulasi harga Fartcoin di platform derivatif Hyperliquid berakhir dengan likuidasi besar senilai US$ 3 juta. Namun, analis on-chain menduga pelaku utama justru tetap meraup keuntungan melalui strategi tersembunyi.
Insiden ini melibatkan skema terkoordinasi yang memanfaatkan likuiditas rendah untuk menggerakkan harga dan memicu mekanisme otomatis di platform.
Berdasarkan data dari PeckShield dan Lookonchain, satu entitas menyebar posisi long senilai sekitar US$ 15 juta melalui empat wallet berbeda.
Total lebih dari 145 juta token FART berhasil dikumpulkan, yang kemudian mendorong harga naik sekitar 20 persen dalam waktu singkat.
Data pasar menunjukkan harga Fartcoin sempat melonjak dari sekitar US$ 0,20 ke US$ 0,2476 dalam beberapa jam pada April.
Alih-alih mengambil keuntungan saat harga naik, pelaku justru membiarkan posisi tersebut dilikuidasi secara sengaja, strategi yang disebut sebagai “suicide liquidation”.
Tujuannya adalah memicu mekanisme Auto-Deleveraging (ADL), yaitu sistem yang secara otomatis menutup posisi lawan untuk menyeimbangkan kerugian ekstrem di pasar.
Akibatnya, trader posisi short dipaksa keluar, sementara pool likuiditas Hyperliquid (HLP) harus menanggung posisi long besar di tengah harga yang mulai jatuh.
Baca Juga: Terduga Insider Raup Rp9,7 Miliar dari Prediksi Perang
Secara kasat mata, pelaku mengalami kerugian sekitar US$ 3 juta akibat likuidasi. Namun, analis menduga mereka telah mengantisipasi skenario ini dengan membuka posisi lindung nilai (hedging) di platform lain.
Dengan strategi ini, kerugian di satu sisi bisa tertutupi oleh keuntungan di sisi lain.
“Ada kemungkinan besar ini justru menghasilkan profit bersih melalui hedging lintas platform,” tulis PeckShield.
Salah satu wallet bahkan tercatat sempat keluar lebih awal dengan keuntungan sekitar US$ 512.000 sebelum gelombang likuidasi terjadi.
Insiden ini berdampak langsung pada ekosistem Hyperliquid. Pool likuiditas mereka dilaporkan mengalami kerugian sekitar US$ 1,5 juta dalam 24 jam terakhir.
Sementara itu, harga Fartcoin turun sekitar 10 persen setelah sempat mengalami lonjakan akibat manipulasi.
Token native platform, HYPE, relatif stabil dan hanya turun tipis sekitar 0,4 persen dalam sehari, bahkan masih mencatat kenaikan lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir.

