Filipina sedang memodernisasi sistem layanan kesehatannya dengan mengintegrasikan Philippine Identification System (PhilSys) untuk transaksi layanan kesehatan, dilaporkan oleh Biometric Update pada 16 April.
Pada akhir Maret, Philippine Health Insurance Corporation (PhilHealth) dan Philippine Statistics Authority (PSA) menandatangani Memorandum of Agreement (MOA) untuk menempatkan PhilSys secara bersama, dengan tujuan mencegah klaim penipuan dan memastikan anggota menerima manfaat mereka.
Sistem identitas digital nasional akan diimplementasikan dalam PhilHealth Check Utility (PCU). Dengan PCU, pengguna dapat memanfaatkan ID nasional mereka untuk verifikasi layanan kesehatan. Ini juga akan memungkinkan verifikasi identitas secara real-time untuk membantu mengurangi duplikasi dan memperlancar akses manfaat.
"Dengan mengintegrasikan data PhilSys, PCU memungkinkan kami memverifikasi identitas secara real-time, melakukan pemeriksaan biometrik, dan memastikan bahwa catatan akurat dan terkini," kata Presiden dan CEO PhilHealth Edwin Mercado dalam pengumuman tersebut.
Integrasi ini menandai pencapaian signifikan dalam tata kelola digital Filipina, menurut Ahli Statistik Nasional PSA dan Pencatat Sipil Jenderal Claire Dennis Mapa. Dalam sebuah lokakarya yang diadakan pada Februari di Quezon City, perwakilan PhilHealth berbagi pengalaman mereka dalam autentikasi pengguna menggunakan ID nasional, menyoroti semakin meluasnya adopsi sistem ini di berbagai lembaga pemerintah. Lokakarya tersebut berfokus pada pengintegrasian PhilSys dengan ID digital nasional dan mengkaji bagaimana hal itu dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi penipuan, dan meningkatkan interoperabilitas di seluruh sistem pemerintah.
Undang-Undang Republik No. 11055, yang umumnya disebut sebagai "Philippine Identification System Act," disahkan menjadi undang-undang oleh mantan Presiden Rodrigo Roa Duterte pada 6 Agustus 2018. Undang-undang ini menunjuk PSA sebagai lembaga utama yang bertanggung jawab atas implementasi sistem ID Nasional. Selain itu, undang-undang ini membentuk PhilSys Policy and Coordination Council (PSPCC), yang bertugas mengembangkan kebijakan dan pedoman untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan sistem ID Nasional.
ID digital nasional Filipina dan pertumbuhan menuju digitalisasi
Pemerintah menerbitkan 84 juta ID digital pada Maret 2025, yang kini digunakan dalam lebih dari 100 juta transaksi di layanan publik dan swasta. Dirancang sebagai sistem yang mengutamakan perangkat mobile, ID digital memungkinkan warga Filipina mengakses layanan dengan aman sambil hanya berbagi data yang diperlukan, sehingga meningkatkan efisiensi. Menurut Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (DICT), inisiatif ini berhasil, menjadikan layanan lebih efisien dan tanpa kertas.
"Di bawah kepemimpinannya, DICT berhasil menghasilkan 84 juta ID Digital, memungkinkan warga Filipina mengakses layanan penting tanpa bergantung pada identifikasi fisik," kata DICT saat itu.
"Inisiatif ini memperlancar transaksi di seluruh lembaga pemerintah nasional dan daerah, bank, dan lembaga keuangan lainnya, menjadikan layanan pemerintah lebih efisien dan tanpa kertas," tambahnya.
Sebuah inisiatif yang sangat selaras dengan peluncuran PhilSys yang sedang berlangsung di negara ini adalah RUU Senat No. 2781, yang dikenal sebagai "E-Governance Act." Pada Juni tahun lalu, Senator Alan Peter Cayetano mendorong pengesahan RUU tersebut, yang pada intinya bertujuan untuk menegakkan interoperabilitas antar lembaga melalui Jaringan Pemerintah Terpadu dan platform terpusat seperti Aplikasi eGovPH.
"[E-Governance Act] bukanlah solusi atas semua masalah kita," kata Cayetano, "Tetapi ini adalah alat yang, jika digunakan secara efektif dan ditugaskan dengan tepat kepada berbagai lembaga, dapat mengatasi banyak tantangan kita saat ini."
E-Governance Act dan Philippine Identification System Act saling terkait erat, karena PhilSys menyediakan identitas digital yang mendasar yang memungkinkan autentikasi aman di seluruh platform pemerintah, sementara E-Governance Act membangun infrastruktur digital terpadu untuk penyampaian layanan publik. Bersama-sama, keduanya mendukung interoperabilitas, memperlancar transaksi, dan mengurangi penipuan dengan memungkinkan lembaga-lembaga mengandalkan sistem ID tunggal yang dapat diverifikasi dalam ekosistem e-government yang terpadu.
"E-governance mengacu pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh pemerintah untuk memberikan layanan publik dengan cara yang lebih ramah, nyaman, terjangkau, efisien, dan transparan," jelas Cayetano.
Tonton: Filipina berada di garis terdepan adopsi teknologi blockchain
title="YouTube video player" frameborder="0″ allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen="">
Source: https://coingeek.com/philippines-brings-digital-id-to-healthcare-verification/








