Pendiri Telegram Pavel Durov mengaitkan 41 penculikan terkait kripto di Prancis dengan kebocoran data, memperingatkan meningkatnya risiko dari sistem pengumpulan data yang terus berkembang.
Lonjakan tajam penculikan terkait kripto di Prancis telah menimbulkan kekhawatiran keamanan yang serius. Pavel Durov melaporkan bahwa 41 kasus semacam itu terjadi hanya dalam 3,5 bulan di tahun 2026. Selain itu, ia mengaitkan kasus-kasus tersebut dengan kebocoran informasi pribadi dan langkah-langkah keamanan data yang tidak efektif.
Durov Menyalahkan Kebocoran Data atas Meningkatnya Penculikan Kripto
Durov menuduh bahwa geng kriminal mungkin telah mengakses informasi sensitif dalam catatan pajak. Ia menyiratkan bahwa orang dalam bisa saja menjual informasi tentang pemegang kripto. Dengan demikian, lebih mudah untuk menemukan dan menyerang orang-orang kaya.
Selain itu, dilaporkan bahwa terjadi pelanggaran signifikan di Agence Nationale des Titles Securises. Ini adalah pelanggaran yang mengungkap informasi pribadi sekitar 19 juta individu. Akibatnya, nama, alamat, dan nomor telepon mungkin telah diakses oleh para kriminal.
Bacaan Terkait: Penculikan Kripto di Prancis Mencapai Satu Kasus Setiap 2,5 Hari pada 2026
Serangan semacam ini umumnya disebut sebagai wrench attack di dunia kripto. Dalam kasus-kasus ini, pelaku memaksa korban untuk menyerahkan aset digital di bawah ancaman. Akibatnya, risiko keamanan fisik meningkat seiring dengan ancaman digital.
Selain itu, Durov memperingatkan bahwa kebocoran data menimbulkan situasi berisiko bagi pengguna kripto. Para kriminal dapat bergerak cepat dan dengan percaya diri ketika informasi pribadi dipublikasikan. Oleh karena itu, masalah ini tidak hanya bersifat digital tetapi juga fisik dan mendesak.
Serangan Meningkat Saat Kriminal Menggunakan Data untuk Menargetkan Korban
Menurut statistik, terjadi satu penculikan terkait cryptocurrency setiap 2,5 hari di Prancis. Tren ini menunjukkan peningkatan kejahatan terorganisir yang menyasar pemegang kripto. Selain itu, peretas cenderung menggabungkan informasi yang dicuri dengan penggunaan media sosial.
Sebagai ilustrasi, profil online bergaya hidup mewah atau investasi besar dapat dipelajari oleh penyerang. Kemudian, mereka membandingkan informasi ini dengan basis data yang bocor untuk menemukan target. Dengan demikian, pengguna yang memposting informasi pribadi secara publik meningkatkan risiko.
Korban, dalam kebanyakan kasus, didekati secara fisik dan dipaksa untuk membuka dompet. Akibatnya, uang dapat dikirim segera tanpa opsi pemulihan. Hal ini membuat pemegang kripto menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan pengguna bank tradisional.
Durov juga memperingatkan bahwa situasi ini bisa diperparah dengan meningkatnya jumlah data yang dikumpulkan oleh pemerintah. Ia menyatakan bahwa pengumpulan data pribadi tambahan memberikan target yang lebih besar bagi peretas. Akibatnya, setiap pelanggaran berikutnya akan menempatkan lebih banyak orang dalam risiko.
Pemerintah Merencanakan Respons di Tengah Perdebatan Privasi yang Berkembang
Pemerintah Prancis telah mulai mengembangkan langkah-langkah keamanan baru bagi pengguna kripto. Pemerintah sedang mengembangkan inisiatif perlindungan dan sosialisasi. Memang, ribuan individu telah mendaftar ke platform pencegahan yang baru-baru ini diluncurkan.
Namun, Durov masih mengkritik kebijakan pengumpulan data pemerintah. Ia berpikir bahwa pengenalan ID digital dan akses ke pesan pribadi dapat menimbulkan lebih banyak risiko. Oleh karena itu, ia memperingatkan bahwa langkah-langkah ini dapat berdampak negatif terhadap keamanan pengguna alih-alih positif.
Selain itu, Durov mengusulkan bahwa Telegram mungkin akan mengevaluasi ulang kehadirannya di Prancis. Ia sudah menghadapi masalah hukum di negara tersebut dan sensitif terhadap persyaratan privasi. Akibatnya, keputusan di masa depan mungkin bergantung pada bagaimana kebijakan berkembang.
Sementara itu, kekayaan kripto semakin menjadi target yang mencolok. Aset digital juga dapat dipindahkan di bawah tekanan, tidak seperti perbankan tradisional. Dengan demikian, pemegang kripto dipandang sebagai target berharga oleh para kriminal.
Kesimpulannya, peningkatan jumlah penculikan kripto mengungkap hubungan yang serius antara keamanan data dan keselamatan pribadi. Meskipun pihak berwenang sedang mengerjakan solusi, risiko kebocoran data masih tinggi. Oleh karena itu, sistem perlindungan yang lebih kuat dan pemrosesan data yang hati-hati akan diperlukan di masa depan.
Source: https://www.livebitcoinnews.com/pavel-durov-links-41-crypto-kidnappings-in-france-to-data-leaks/








