BitcoinWorld
Rebound Bitcoin Diprediksi oleh Arthur Hayes: Target $125K di Tengah Lonjakan Inflasi Masa Perang
Co-founder BitMEX, Arthur Hayes, telah mengeluarkan prediksi berani mengenai rebound Bitcoin, dengan menargetkan harga $125.000. Berbicara di konferensi Bitcoin 2026, Hayes berargumen bahwa mata uang kripto ini siap untuk pemulihan signifikan yang didorong oleh inflasi masa perang dan perubahan regulasi terkini. Prediksi ini muncul setelah periode penurunan Bitcoin, yang oleh Hayes dikaitkan dengan kehilangan pekerjaan di sektor pengetahuan akibat kemajuan AI.
Hayes menjelaskan bahwa penurunan Bitcoin baru-baru ini dari puncaknya terkait dengan kontraksi kredit yang disebabkan oleh kehilangan pekerjaan secara masif di kalangan pekerja pengetahuan. Penyebaran teknologi AI, menurutnya, mengurangi pengeluaran konsumen dan memperketat pasar kredit. Namun, fokus pasar kini telah bergeser secara dramatis sejak meletusnya perang AS-Iran pada bulan Februari. Peristiwa geopolitik ini telah mengalihkan perhatian dari resesi yang didorong AI ke inflasi masa perang, memungkinkan Bitcoin untuk kembali mengungguli Nasdaq.
Menurut Hayes, pergeseran dinamika pasar ini sangat krusial. Inflasi masa perang biasanya mendorong investor menuju aset keras seperti Bitcoin, yang dipandang sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang. Perubahan sentimen ini memberikan landasan bagi prediksi rebound Bitcoin.
Hayes menepis kekhawatiran tentang sikap hawkish dari calon Ketua The Fed, Washi. Ia berargumen bahwa langkah pengetatan Federal Reserve memiliki pengaruh minimal terhadap likuiditas aktual. Sebaliknya, ia menyoroti pelonggaran regulasi bank yang diterapkan pada bulan April, khususnya perubahan Supplementary Leverage Ratio (eSLR). Penyesuaian regulasi ini diperkirakan akan menciptakan sekitar $1,3 triliun kapasitas pinjaman baru.
Suntikan dana besar-besaran ini, dikombinasikan dengan pengeluaran pertahanan masa perang, akan mengimbangi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh AI, kata Hayes. Dorongan likuiditas dari deregulasi bank memberikan angin segar yang kuat bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Kombinasi stimulus fiskal dan pelonggaran moneter menciptakan lingkungan di mana Bitcoin dapat berkembang.
Hayes menekankan bahwa titik bawah likuiditas telah dikonfirmasi. Ini berarti fase terburuk dari kontraksi kredit telah berakhir, dan pasar kini memasuki fase ekspansi. Target harga $125.000 untuk Bitcoin mencerminkan realitas baru ini.
Perang AS-Iran telah mengubah lanskap makroekonomi secara fundamental. Secara historis, konflik mendorong inflasi karena pemerintah meningkatkan pengeluaran untuk operasi militer. Tekanan inflasi ini menggerus nilai mata uang fiat, menjadikan Bitcoin sebagai alternatif yang menarik. Pasokan tetap mata uang kripto sebesar 21 juta koin memposisikannya sebagai emas digital yang kebal terhadap pencetakan bank sentral.
Analisis Hayes selaras dengan pola historis. Selama periode ketidakstabilan geopolitik, Bitcoin sering kali mengalami reli karena investor mencari aset di luar sistem keuangan tradisional. Konflik saat ini tidak terkecuali, dengan Bitcoin yang sudah menunjukkan tanda-tanda decoupling dari Nasdaq. Tren ini mendukung narasi rebound Bitcoin.
| Periode | Kinerja Bitcoin | Kinerja Nasdaq |
|---|---|---|
| Pra-perang (2025) | -15% | -8% |
| Pasca-perang (Feb 2026) | +22% | +5% |
Data menunjukkan divergensi yang jelas. Bitcoin telah mengungguli Nasdaq sejak perang dimulai, mengkonfirmasi tesis Hayes. Kinerja yang lebih baik ini kemungkinan akan terus berlanjut seiring meningkatnya tekanan inflasi.
Rekam jejak Arthur Hayes menambah bobot pada prediksinya. Sebagai co-founder BitMEX, ia memiliki pengalaman mendalam di pasar kripto. Analisisnya tentang siklus likuiditas telah terbukti akurat di masa lalu. Sebagai contoh, Hayes berhasil memprediksi bull run 2021 dan crash 2022. Prediksinya saat ini untuk rebound Bitcoin ke $125.000 didasarkan pada pemahaman mendalam tentang kebijakan moneter dan psikologi pasar.
Hayes juga mencatat bahwa pelonggaran regulasi bank merupakan pengubah permainan. $1,3 triliun kapasitas pinjaman baru akan mengalir ke perekonomian, mendorong harga aset. Bitcoin, sebagai aset high-beta, berpotensi mendapat manfaat terbesar. Suntikan likuiditas ini adalah pendorong utama di balik target $125K.
Prediksi Arthur Hayes tentang rebound Bitcoin ke $125.000 didasarkan pada perpaduan berbagai faktor: inflasi masa perang, deregulasi bank, dan konfirmasi titik bawah likuiditas. Pergeseran dari resesi yang didorong AI ke ekonomi masa perang telah memposisikan ulang Bitcoin sebagai aset terdepan. Investor harus memantau tren makroekonomi ini dengan cermat. Rebound Bitcoin tampaknya semakin memperoleh momentum, dengan target $125K dalam jangkauan.
Q1: Apa target harga Bitcoin Arthur Hayes?
Arthur Hayes memprediksi rebound Bitcoin ke $125.000, didorong oleh inflasi masa perang dan deregulasi bank.
Q2: Mengapa Hayes percaya Bitcoin akan rebound?
Ia mengutip pergeseran dari resesi yang didorong AI ke inflasi masa perang, ditambah $1,3 triliun kapasitas pinjaman baru dari pelonggaran regulasi bank.
Q3: Bagaimana perang AS-Iran mempengaruhi Bitcoin?
Perang memicu inflasi, yang menguntungkan aset keras seperti Bitcoin karena investor mencari lindung nilai terhadap devaluasi mata uang.
Q4: Apa itu perubahan eSLR?
Pelonggaran Supplementary Leverage Ratio (eSLR) pada bulan April membebaskan modal bank, menciptakan sekitar $1,3 triliun kapasitas pinjaman.
Q5: Apakah prediksi Hayes dapat diandalkan?
Hayes memiliki rekam jejak yang kuat dalam memprediksi siklus pasar, yang menambah kredibilitas pada target Bitcoin $125K miliknya.
Postingan ini Bitcoin Rebound Predicted by Arthur Hayes: $125K Target Amid Wartime Inflation Surge pertama kali muncul di BitcoinWorld.

