Dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam satu pekan setelah pasar diguncang tiga sentimen besar sekaligus, yaitu inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, memburuknya prospek gencatan senjata Iran, dan meningkatnya kehati-hatian menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Menurut Coinedition, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, berada di sekitar 98,335. Level tersebut menjadi posisi terkuat dalam sepekan terakhir.
Sementara itu, euro melemah ke US$1,1735 dan pound sterling turun ke US$1,3532. Penguatan dolar terjadi karena investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah meningkatnya risiko makro dan geopolitik.
Sentimen utama datang dari data inflasi AS. Pemerintah AS melaporkan bahwa harga konsumen naik 3,8% secara tahunan hingga April, lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 3,7%.
Angka tersebut juga meningkat tajam dari pembacaan sebelumnya di level 3,3%. Kenaikan inflasi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada 2026 semakin menipis.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu pendorong utama. Harga bensin dilaporkan melonjak 28,4%, terutama akibat perang dengan Iran yang kembali mendorong harga minyak. Core inflation, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga naik 0,4% dalam satu bulan.
Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan membuat pasar menilai The Fed tidak memiliki ruang untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 35% bahwa The Fed justru dapat menaikkan suku bunga pada Desember.
Kondisi ini langsung mendukung penguatan dolar AS. Ketika suku bunga AS diperkirakan tetap tinggi atau naik, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Akibatnya, aliran dana cenderung masuk ke dolar dan obligasi AS, sementara mata uang lain mengalami tekanan.
Ekspektasi suku bunga tinggi juga mendorong kenaikan imbal hasil Treasury AS. Yield yang lebih tinggi memperkuat daya tarik dolar karena investor mendapatkan potensi imbal hasil lebih besar dari aset berdenominasi dolar.
Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko seperti saham, kripto, dan mata uang emerging market biasanya lebih rentan tertekan karena investor cenderung mengurangi eksposur risiko.
Baca juga: Bitcoin Kebal Dolar: Mengapa BTC Tak Lagi Anjlok Saat USD Naik?
Tim Research Tokocrypto melihat selain inflasi, ketegangan geopolitik juga menambah tekanan pasar. Harapan terhadap kesepakatan damai di Timur Tengah melemah setelah Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on life support”.
“Iran disebut menolak proposal perdamaian AS dan mengajukan daftar tuntutan sendiri. Trump kemudian menolak tuntutan tersebut dan menyebutnya tidak dapat diterima,” ujarnya.
Memburuknya situasi Iran kembali mendorong harga minyak naik. Kenaikan harga minyak dapat memperburuk tekanan inflasi, sehingga semakin memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Faktor ketiga yang menjadi perhatian pasar adalah pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei. Investor menunggu apakah pertemuan tersebut akan membawa sinyal de-eskalasi atau justru memperburuk hubungan dagang antara AS dan China.
Pasar mencermati potensi pengumuman terkait tarif perdagangan, pembatasan teknologi, dan ketegangan ekonomi antara dua negara terbesar di dunia tersebut.
Jika pertemuan berjalan positif, dolar dapat melemah karena minat terhadap aset berisiko kembali meningkat. Namun, jika ketegangan meningkat, dolar berpotensi menguat lebih lanjut dan volatilitas pasar dapat naik.
Kombinasi inflasi tinggi, risiko geopolitik, dan ketidakpastian hubungan AS-China membuat dolar AS menjadi aset yang paling diuntungkan dalam jangka pendek.
Selama ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap hilang dan investor masih mencari perlindungan dari risiko global, dolar berpeluang mempertahankan penguatannya.
Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu respons The Fed terhadap data inflasi dan hasil pertemuan Trump-Xi di Beijing. Jika ketegangan mereda, pasar dapat kembali masuk ke aset berisiko. Sebaliknya, jika inflasi dan geopolitik memburuk, dolar berpotensi terus menguat.
Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post Dolar AS Sentuh Tertinggi Sepekan Dipicu Inflasi dan Iran appeared first on Tokocrypto News.

