Bank-bank terbesar Wall Street telah menetapkan target harga emas paling berani untuk 2026, dan investor ritel Rusia tidak menunggu lagi.
JPMorgan kini memperkirakan harga emas akan mencapai US$6.300 per ons pada akhir tahun. Deutsche Bank memproyeksikan US$6.000, sementara Goldman Sachs menargetkan US$5.400 dan UBS memprediksi US$5.900.
Proyeksi tersebut muncul di momen yang mencolok. Harga emas diperdagangkan mendekati US$4.548, turun sekitar 16% dari rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari lalu. Sebagian besar analis menilai koreksi ini sebagai peluang beli dalam bull market struktural.
Sementara itu, investor Rusia bergerak dengan cepat. Moscow Exchange melaporkan volume perdagangan emas mencapai 42,6 ton pada Maret 2026, lebih dari 3,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Volume transaksi dalam rupiah melonjak lima kali lipat menjadi 534,4 miliar rubel (US$7,1 miliar).
Orang Rusia saat ini memiliki lima cara utama untuk mendapatkan eksposur ke emas. Cara paling sederhana adalah membuka akun logam tak teralokasi (OMS) di bank. Instrumen broker seperti GLDRUB_TOM menawarkan penyelesaian spot di hari berikutnya.
Investor juga bisa memilih exchange-traded fund (ETF) emas, saham penambangan emas, atau aset keuangan digital (DFA) baru yang terhubung dengan logam ini.
Oleg Reshetnikov dari BCS World of Investments menerangkan bahwa instrumen spot menjadi pilihan utama.
Perusahaannya membidik harga US$5.385 dalam 12 bulan ke depan.
Untuk dana yang lebih kecil, aplikasi broker makin membuka peluang investasi emas.
Meskipun begitu, para ahli menyarankan diversifikasi dalam berbagai format.
Meski begitu, risiko tetap ada. Inflasi AS pada April mencapai 3,8%, tertinggi selama setahun, sehingga menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. India juga menaikkan tarif impor emas menjadi 15%, sehingga permintaan fisik pun menurun.
Selain itu, bank sentral Rusia sendiri menjadi penjual bersih dengan melepas 22 ton emas di 2026 guna menutup defisit anggaran.
Namun untuk saat ini, permintaan ritel terus bertambah dan Wall Street terus meningkatkan prediksi harga emasnya.

