FIFA mencapai kesepakatan dengan China Media Group terkait hak siar Piala Dunia 2026 di Tiongkok daratan senilai US$60 juta. Angka ini jauh di bawah permintaan awalnya yang mencapai US$250–US$300 juta.
FIFA dan China Media Group menandatangani kesepakatan ini pada 15 Mei, hanya 27 hari sebelum laga pembuka di Amerika Utara pada 11 Juni. Perjanjian ini juga mencakup turnamen tahun 2027, 2030, dan 2031.
Induk dari stasiun penyiaran CCTV, yaitu China Media Group, memang memegang monopoli hak siar olahraga internasional utama di Tiongkok daratan.
Kekuatan ini membuat mereka dapat mengabaikan permintaan awal FIFA dan hanya menyiapkan anggaran internal sebesar US$60 hingga US$80 juta.
The Global Times mengabarkan bahwa FIFA memangkas permintaannya menjadi US$120–US$150 juta sebelum akhirnya sepakat di angka paling rendah.
The Associated Press mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini mencakup TV gratis, streaming, dan platform seluler dalam resolusi 4K serta 8K.
Ada dua faktor yang membuat kekuatan harga FIFA menjadi lemah. Tim nasional putra Cina gagal lolos ke Piala Dunia, sehingga minat penonton domestik anjlok. Selain itu, jadwal pertandingan malam di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko jatuh pada jam 12 malam hingga 6 pagi waktu Beijing.
Subscribe ke channel YouTube kami untuk menyimak pandangan ahli dari para pemimpin dan jurnalis
Nilai US$60 juta ini sama seperti yang Cina bayarkan untuk turnamen yang lebih kecil di Qatar pada 2022. Edisi terbaru Piala Dunia tersebut kini menghadirkan 50% pertandingan lebih banyak.
Menariknya, ada lebih dari 230 pasar taruhan terkait Piala Dunia yang sudah dibuka di Polymarket pada saat penulisan, menampilkan berbagai prediksi dan peluang FIFA yang berbeda.
Polymarket, Kalshi, dan platform serupa kini menjadi rujukan utama media olahraga dalam berbagi berita terbaru. Binance dan beberapa exchange lain juga telah mengembangkan produk Piala Dunia yang menggunakan fan token.
FIFA sendiri mengelola blockchain berbasis Avalanche untuk koleksi digital Web3.
Semua hal itu tetap tidak mampu memperbaiki jumlah penonton di Cina. Bahkan sampai beberapa minggu menuju kick-off, FIFA masih belum menemukan penyiar di India.
