Obligasi pemerintah Jepang mengalami pemulihan pada 21 Januari 2026, setelah penurunan tajam yang berdampak pada pasar global, namun pasar saham negara tersebut menghadapi kesulitan yang berkelanjutan. Nikkei 225 turun untuk sesi kelima berturut-turut, menandai periode penurunan terpanjang dalam setahun. Dengan ketidakpastian politik dan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Jepang yang membayangi, baik imbal hasil obligasi maupun sentimen investor tetap bergejolak, membuat pasar dalam kondisi waspada.
Obligasi pemerintah Jepang (JGB) menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada 21 Januari 2026, menyusul penurunan signifikan yang memengaruhi pasar global. Meskipun mengalami rebound, perdagangan pasar tetap bergejolak dan tidak stabil. Imbal hasil JGB 30 tahun turun 16,5 basis poin, turun menjadi 3,71% dari level tertinggi 3,88% pada sesi sebelumnya.
Penurunan ini menandai penghentian sementara terhadap gejolak yang telah mengguncang investor secara global. Demikian pula, imbal hasil obligasi 10 tahun turun 6 basis poin menjadi 2,280%, memberikan rasa lega setelah mencapai level tertinggi dalam 27 tahun sebelumnya.
Meskipun pergerakan ini menunjukkan stabilisasi, aktivitas pasar tetap berhati-hati. Kepercayaan terhadap pasar secara luas masih rendah, dengan banyak investor memilih untuk menunggu. Jumlah pembeli obligasi yang terbatas membantu mendorong harga obligasi naik, meskipun volume perdagangan tergolong tipis. Para analis menunjukkan bahwa tindakan dari pemerintah Jepang dan bank sentral akan menjadi krusial untuk menentukan arah jangka panjang pasar obligasi.
Pasar keuangan Jepang menghadapi ketidakpastian signifikan minggu ini, dipengaruhi oleh politik domestik dan masalah fiskal. Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan akan membubarkan parlemen pada hari Jumat, memicu pemilihan mendadak.
Peristiwa politik ini menambah lapisan ketidakpastian lain pada lingkungan pasar yang sudah bergejolak. Pada saat yang sama, Bank Jepang dijadwalkan mengadakan pertemuan pada hari Jumat untuk membahas kebijakan moneter, yang semakin menambah kehati-hatian investor.
Awal minggu ini, kekhawatiran tentang kesehatan fiskal Jepang meningkat setelah Perdana Menteri Takaichi berjanji untuk menghapus pajak penjualan pada bahan makanan. Proposal ini memicu kekhawatiran terhadap keuangan negara yang sudah rapuh, yang menyebabkan lonjakan imbal hasil JGB.
Namun, Menteri Keuangan Satsuki Katayama berusaha menenangkan situasi dengan menyatakan bahwa kebijakan fiskal pemerintah tidak ekspansif. Ia mendesak pasar untuk tetap tenang dan meyakinkan investor bahwa posisi fiskal Jepang tidak akan memburuk.
Indeks Nikkei 225 Jepang melanjutkan tren penurunannya pada 21 Januari 2026, ditutup turun 0,4% pada 52.774,64 poin. Ini menandai sesi kerugian kelima berturut-turut, yang merupakan periode penurunan terpanjang untuk indeks acuan tersebut dalam lebih dari setahun. Indeks Topix yang lebih luas juga turun 1%, ditutup pada 3.589,70.
Penurunan berkelanjutan pada Nikkei mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap ketidakpastian politik domestik dan ketegangan ekonomi global. Investor telah berhati-hati, dan sentimen lemah dari pasar luar negeri, khususnya dari AS, telah menambah tekanan. Gesekan perdagangan global, seperti ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump terhadap Eropa, semakin meredam kepercayaan investor.
Meskipun ada upaya dari beberapa investor untuk mendukung pasar dengan pembelian kecil, Nikkei kesulitan menemukan arah. Banyak pelaku pasar fokus pada mempertahankan level psikologis kunci 52.000 poin, tetapi kurangnya katalis positif utama membuat pasar rentan terhadap penurunan lebih lanjut.
Sektor keuangan Jepang, khususnya bank, menghadapi tekanan signifikan pada 21 Januari 2026. Sub-indeks Topix bank turun 3,2%, memimpin penurunan di 33 sektor di pasar yang lebih luas. Penurunan ini terjadi karena investor khawatir tentang efek riak potensial dari kenaikan imbal hasil JGB dan pasar saham yang bergejolak terhadap lembaga keuangan Jepang.
Kelemahan pada saham keuangan juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang kesehatan ekonomi Jepang. Dengan ketidakpastian politik dan fiskal yang mengelilingi negara tersebut, ditambah dengan masalah perdagangan global, investor menjadi lebih menghindari risiko. Kinerja saham keuangan akan tetap menjadi area kritis untuk diawasi, karena penurunan signifikan di sektor ini dapat menandakan tantangan ekonomi yang lebih luas bagi Jepang.
The post Japan's Government Bonds Rebound After Drop; Nikkei Falls for Fifth Session appeared first on CoinCentral.


