Cryptoharian – Saat pasar mulai mengalami perubahan tren, banyak orang terkadang masih bingung antara perubahan atau sekedar koreksi. Hal inilah yang membuat baCryptoharian – Saat pasar mulai mengalami perubahan tren, banyak orang terkadang masih bingung antara perubahan atau sekedar koreksi. Hal inilah yang membuat ba

Mengapa Banyak Trader Terlambat Menyadari Pergeseran Tren?

durasi baca 3 menit

Cryptoharian – Saat pasar mulai mengalami perubahan tren, banyak orang terkadang masih bingung antara perubahan atau sekedar koreksi. Hal inilah yang membuat banyak investor terkadang salah langkah, dan sering kalin mengalami kerugian.

Salah satu trader populer di media sosial X, dengan nama akun Rawl membeberkan salah satu tips perdagangan terbaru. Berdasarkan pengalamannya, ia menilai banyak pelaku pasar keliru membaca kapan tren benar-benar berubah.

Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa ketika mayoritas orang sudah kompak menyebut kondisi sebagai bull atau bear market, peluang terbaik justru sudah lewat.

“Penyebabnya sederhana, yakni label datang belakangan, sementara perpindahan tren terjadi lebih awal. Ini terlihat dari struktur harga dan likuiditas, bukan dari indikator atau narasi,” ungkap Rawl.

Rawl menyebut, cara paling dasar untuk membaca tren adalah melihat break of structure (BOS), momen ketika rangkaian high/higher low (tren naik) berganti menjadi lower high/lower low (tren turun), atau sebaliknya.

“Banyak pemula terjebak karena terlalu fokus pada momen harga menembus level populer, padahal perubahan struktur sudah dimulai sebelumnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan pada siklus 2021-2022, di mana banyak orang menyebut ‘bear market’ ketika Bitcoin kehilangan area yang dianggap kunci (seperti US$ 28.000). Namun dari perspektif price action, Rawl menilai downtrend sebenarnya sudah dimulai lebih awal di sekitar US$ 57.600, dan dari sanalah penurunan besar menuju area bawah terjadi.

Konsep tersebut, lanjutnya, dikaitkan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, wajar jika banyak yang menyebut situasi sekarang ‘bear market’, karena terasa mirip dengan pola sebelumnya, yakni ketika level-level tertentu runtuh dan pasar terlihat lemah.

“Namun perubahan tren sudah terjadi pada tanggal 10 Oktober lalu, ketika struktural uptrend Bitcoin patah di sekitar US$ 107.400. Sejak titik itu, Bitcoin sudah turun sekitar 32 persen, dan jika mengikuti ‘playbook’ siklus sebelumnya, maka pasar bisa saja baru setengah jalan dari fase turun. Tetapi ini masih bersifat hipotetis,” kata Rawl.

Baca Juga: Investor ‘The Big Short’ Klaim Kejatuhan Bitcoin Bakal Merambat ke Logam Mulia

Kunci kedua dalam kerangka Rawl adalah likuiditas. Ia menjelaskan likuiditas paling sederhana berada di atas puncak (highs) atau di bawah lembah (lows), tempat stop-loss menumpuk, supply/permintaan bertemu, dan posisi long maupun short sama-sama tersapu sebelum pasar memilih arah.

“Di titik-titik itulah terjadi reset. Pasar mengambil likuiditas, lalu struktur bisa berubah lagi,” paparnya.

Dari kacamata ini, Rawl melihat area low tertentu yang sudah tersentuh kembali sebagai titik likuiditas yang berpotensi memicu reset tren. Ini mirip dinamika yang pernah terjadi sebelumnya. Supaya reset itu benar-benar terjadi, trader tersebut memperkirakan pasar membutuhkan fase volatilitas tinggi yang kemudian ‘mengompres’ harga ke dalam range yang rapat, sebelum akhirnya struktur beralih lagi.

Dalam skenario bullish-nya, Rawl menyebut target minimum dari reset tren biasanya kembali menguji area awal tempat tren patah, yang ia tempatkan di kisaran US$ 116.000 – US$ 125.000 sebagai target pertama jika terjadi pergeseran kembali ke uptrend.

“Ada juga kemungkinan deviasi melampaui puncak sebelumnya, yang bisa mendorong harga ke area US$ 130.000 – US$ 150.000. Namun saya masih skeptis untuk target yang lebih jauh dari itu,” tulisnya.

Kendati demikian, Rawl juga tidak menutup skenario sebaliknya, di mana tren turun bisa berlanjut dengan rangkaian lower high dan lower low, sampai akhirnya tren kembali bergeser pada waktunya.

“Yang penting pelajaran paling dasarnya adalah memantau tren. Sesimpel itu, tanpa indikator, tanpa pattern, hanya struktur dan level likuiditas,” pungkas Rawl.

Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.