Cryptoharian – Lonjakan harga saham dan derasnya belanja kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan pertanyaan lama, yakni apakah pasar sedang membangun gelembung baru?
Sejumlah ekonom menilai memang ada bagian yang terlihat ‘terlalu panas’, namun gambaran besarnya belum menunjukkan kerusakan mendasar. Nada yang sama muncul dari tiga tokoh dengan sudut pandang berbeda, dari manajer portofolio, mantan pejabat ekonomi Gedung Putih, hingga pimpinan IMF, mengatakan bahwa kondisi tampak menegang, namun belum pecah.
Owen Lamont dari Acadian Asset Management melihat valuasi saham Amerika memang tinggi dan sentimen investor terasa optimis. Namun baginya, label bubble tidak cukup hanya bermodal harga yang mahal atau euforia ritel.
“Salah satu ciri klasik yang biasanya hadir di puncak gelembung, yakni orang dalam perusahaan dan pemilik awal berlomba ‘membuang’ saham ke publik lewat IPO dan secondary offering besar-besaran,” ungkap Lamont.
Itu yang menurutnya belum terlihat pada skala yang meyakinkan di siklus ini. Alih-alih banjir penerbitan saham baru, perusahaan-perusahaan AS justru masih aktif melakukan buyback, dan mengurangi jumlah saham beredar. Bagi Lamont, pola ini tidak sejalan dengan perilaku “jual ke publik saat puncak” yang sering menjadi penanda bubble matang.
“Saya tidak menyangkal pasar terlihat mahal, tetapi menurut pandangan saya, syarat untuk menyebutnya bubble penuh masih belum lengkap.” ujarnya.
Baca Juga: Novogratz: Ancaman Terbesar Bitcoin Bukan Quantum, tapi Konflik Internal Pengembang
Di luar perdebatan valuasi pasar, Jared Bernstein menyoroti bahwa mesin ekonomi riil masih berjalan. Dalam tulisannya untuk Stanford, ia menilai ekonomi Amerika mampu bertahan di tengah suku bunga bunga tinggi, ketidakpastian kebijakan dan perubahan struktural, tanpa tergelincir ke resesi.
“Konsumsi rumah tangga, kenaikan upah riil, serta perbaikan produktivitas membantu menahan efek perlambatan pasar tenaga kerja,” kata Bernstein.
Ia menggambarkan situasi ketenagakerjaan saat ini sebagai ‘low-hire’, ‘low fire’, di mana perekrutan melambat, namun PHK juga tidak meledak, sehingga ekonomi masih tumbuh pada jalur yang relatif sehat.
“Bahkan kekhawatiran bubble saham yang dipicu AI, belum menjelma menjadi kerusakan ekonomi luas, yakni investasi dan produktivitas masih memberi bantalan,” tulisnya.
Sementara itu, dari panggung global Kristalina Georgieva di World Economic Forum 2026 di Davos membawa pesan yang senada. Ia mengatakan bahwa ekonomi dunia sudah berulang kali diterpa guncangan, dengan geopolitik, friksi dagang, hingga pengetatan keuangan. Namun daya tahannya lebih kuat dari perkiraan banyak pihak.
Ketahanan itu, menurutnya, dengan kemampuan sektor swasta beradaptasi, respon kebijakan bank sentral yang relatif dan penyebaran teknologi yang bertahap.
“Masalah besar seperti utang publik yang meningkat dan pertumbuhan yang tidak merata antarwilayah. Namun ini merupakan tantangan yang bisa dikelola, bukan pemicu instabilitas sistemik,” pungkas Georgieva.

