Harga saham Robinhood telah bangkit hampir 23% sejak level terendah 5 Februari di sekitar US$71. Sekilas, ini terlihat seperti pemulihan yang kuat untuk HOOD. Perusahaan ini juga baru saja mencatat tahun keuangan terbaik sepanjang sejarahnya.
Tapi gambaran besarnya memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Aktivitas aset kripto yang lemah, arus uang yang mulai berkurang, dan risiko teknikal yang meningkat menandakan reli ini mungkin tidak bertahan lama. Untuk saat ini, tekanan ke bawah tetap menjadi kekuatan utama.
Robinhood mencatat kinerja keuangan yang solid di tahun 2025. Pendapatan sepanjang tahun mencapai sekitar US$4,5 miliar, naik lebih dari 50% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih hampir menyentuh US$1,9 miliar. Pendapatan Q4 naik 27%, dan laba per saham melampaui ekspektasi. Perdagangan opsi, pendapatan bunga, dan langganan Gold semuanya tumbuh pesat.
Data ini menunjukkan inti bisnis Robinhood semakin membaik. Robinhood tidak lagi hanya mengandalkan saham meme dan perdagangan aset kripto. Sekarang, bisnisnya makin beragam dan lebih stabil.
Perusahaan ini juga merilis testnet publik untuk Robinhood Chain. Ini adalah jaringan layer-2 Ethereum yang dibangun di atas Arbitrum. Jaringan ini bertujuan mendukung saham yang ditokenisasi, perdagangan 24/7, dan berbagai alat decentralized finance. Langkah ini lebih ke arah pertumbuhan jangka panjang, bukan pendorong harga jangka pendek. Tapi, aset kripto tetap menjadi kendala.
Pendapatan dari aset kripto anjlok 38% secara tahunan menjadi sekitar US$221 juta. Penurunan ini terjadi akibat koreksi Bitcoin dan volume perdagangan yang lebih rendah. Karena aset kripto masih memberi kontribusi besar terhadap aktivitas, perlambatan ini memukul total pendapatan. Penjualan Q4 juga meleset dari estimasi analis sekitar US$50 juta.
Pasar lebih menyoroti kekurangan tersebut.
Setelah laporan keuangan, saham ini turun sekitar 7% pada perdagangan setelah jam bursa. Hal ini menandakan investor masih memandang aset kripto sebagai risiko utama. Bahkan profit kuat dan produk baru pun belum bisa menutupi kelemahan ini. Pasca performa aset kripto yang mengecewakan itu, harga saham Robinhood nampaknya kembali memunculkan kekhawatiran terkait pola bearish yang terkonfirmasi.
Harga HOOD menembus ke bawah dari channel turun pada 2 Februari, sehingga memicu breakdown hampir 30%. Walau US$71 sempat menjadi support, penurunan akibat faktor aset kripto bisa saja kembali menekan harga ke bawah.
Itulah sebabnya rebound sejak 5 Februari terlihat rapuh. Pergerakan ini masih terjadi di dalam tren turun yang lebih besar, bukan di awal tren naik yang baru.
Pergerakan harga saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Indikator arus uang menunjukkan investor besar masih bersikap waspada.
Salah satu alat utama adalah Chaikin Money Flow, atau CMF. CMF menggabungkan harga dan volume guna menunjukkan apakah pemain besar sedang membeli atau menjual. Jika berada di atas nol, biasanya institusi lagi mengakumulasi. Jika di bawah, mereka keluar atau enggan masuk pasar.
Saat ini, CMF Robinhood masih bernilai negatif.
Bahkan selama rebound 23% kemarin, CMF tetap gagal menembus garis nol. CMF juga masih berada di bawah garis tren turunnya. Ini berarti reli yang terjadi belum mendapat dukungan kuat dari dompet besar.
Ingin insight seperti ini? Daftar sekarang untuk Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya dengan klik di sini.
Hal tersebut membuat rebound menjadi tidak stabil. Indikator moving average juga memberi peringatan lain.
Exponential moving average, atau EMA, memberikan bobot lebih besar pada harga terbaru. Para trader memanfaatkannya untuk mengukur kekuatan tren. Ketika rata-rata jangka pendek turun di bawah rata-rata jangka panjang, momentum semakin lemah.
Robinhood kini menghadapi risiko “Death Cross”. Death Cross terjadi ketika EMA 50-hari melemah hingga menembus di bawah EMA 200-hari. Sinyal ini sering menunjukkan tanda pelemahan jangka panjang.
Dua persilangan bearish sudah terbentuk pada 30 Januari dan 4 Februari. Setelah sinyal Januari, saham ini turun hampir 30%. Kini, garis 50-hari kembali mendekat ke garis 200-hari. Jika persilangan ini terkonfirmasi, tekanan ke bawah bisa semakin kuat.
Hanya ada satu sisi positif, walau ringan.
On-Balance Volume, atau OBV, membandingkan volume antara hari naik dan hari turun. Indikator ini menunjukkan siapa yang dominan, pembeli atau penjual. Dari bulan September hingga Februari, OBV membentuk low yang lebih tinggi, sedangkan HOOD mencetak low yang lebih rendah. Ini mengisyaratkan sebagian investor ritel masih melakukan akumulasi.
Jika pelemahan aset kripto berlanjut, bahkan support ini pun bisa ikut melemah. Tanpa permintaan kuat dari wallet besar, pembelian dari ritel saja jarang cukup untuk membalikkan tren.
Struktur chart masih tetap bearish.
Robinhood telah diperdagangkan di dalam channel menurun sejak Oktober. Channel menurun tercipta saat harga membentuk high dan low yang makin rendah di dalam garis tren sejajar. Itu menandakan aksi jual yang terkontrol namun terus berlanjut.
Sekarang, channel sejajar baru mulai terbentuk berdasarkan aksi harga terbaru. Struktur yang diperbarui ini mengisyaratkan potensi penurunan lebih dari 40% jika garis tren bawah terlewati. Level harga HOOD kunci pertama adalah US$71, yang menjadi zona support terakhir.
Selama harga bergerak di atas level itu, rebound masih punya peluang bertahan meskipun ditarik oleh kondisi aset kripto. Jika harga benar-benar menembus ke bawah US$71, level harga yang lebih rendah akan terbuka. Jika itu terjadi, zona penting berikutnya berada di sekitar US$55.
Di sisi atas, resistance masih sangat kuat. Harga saham HOOD perlu kembali ke level US$87 lalu US$98 agar struktur jangka pendek membaik. Setelah itu, US$107 dan US$119 menjadi rintangan utama berikutnya.



Keuangan
Bagikan
Bagikan artikel ini
Salin tautanX (Twitter)LinkedInFacebookEmail
Mengapa VC kripto di Consensus Hong Kong pl