Cryptoharian – Perbincangan soal tarif kembali meledak di media sosial komunitas kripto setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif global 15 persen untuk seluruh impor. Menurut firma analitik on-chain Santiment, lonjakan perhatian terhadap kata ‘tarif’ bukan sekedar kebisingan, melainkan sinyal sentimen ritel yang kerap beriringan dengan perubahan arah pasar, terutama ketika narasi geopolitik menabrak ekspektasi moneter.
Dalam salah satu pembaruan, Santiment menyebut ada tiga momen selamat setahun terakhir ketika berita tarif memicu reaksi ritel yang sangat besar di X, Reddit, Telegram dan platform lain.
“Polanya selalu berulang, yakni ketika isu tarif menjadi arus utama dan ketakutan mencapai puncak, pasar kripto cenderung masuk fase volatilitas yang sulit ditebak, dengan ritel yang sering menjadi pihak yang paling reaktif,” ungkap Santiment, Selasa (23/2/2026).
Santiment menunjuk bulan April 2025 sebagai contoh pertama. Saat itu, Trump mengumumkan tarif baru yang spesifik per negara, termasuk tarif tinggi untuk China dan tarif besar untuk beberapa mitra dagang lain.
“Reaksi ritel saat itu seperti ketakutan massal yang mendorong banyak pelaku meninggalkan kripto dan melikuidasi posisi di momen yang justru bertepatan dengan bottom pasar,” ujarnya.
Firma analistik tersebut menambahkan, kepanikan yang seragam sering kali menciptakan peluang karena tekanan jual ritel mengering setelah fase takut maksimal terjadi.
Baca Juga: Grey perluas layanan perbankan bisnis dengan akun USD dan dukungan stablecoin
Setelah itu, momen kedua terjadi pada Oktober 2025, hanya beberapa hari setelah Bitcoin mencetak rekor di sekitar US$ 126.000. Santiment mencatat adanya lonjakan pembicaraan tarif lagi ketika Trump mengumumkan tarif ekstrem untuk impor dari Cina, sebelum kemudian menariknya kembali dua hari setelahnya.
“Dinamika ‘on-again, off again’ ini memperparah kegugupan pasar. Banyak trader mengira situasinya akan mengulang pola April, sebagai peluang beli. Namun pada kenyataannya periode tersebut justru menjadi salah satu kesempatan terakhir bagi ritel untuk menjual Bitcoin di atas level tinggi sebelum pasar memasuki penurunan yang panjang,” kata Santiment.
Puncak perhatian terbaru datang pada Februari 2026, ketika Trump mengumumkan tarif global 15 persen yang memicu gelombang diskusi baru dan diikuti aksi jual Bitcoin.
Santiment menilai episode kali ini lebih rumit karena terjadi di tengah ketegangan politik-hukum yang lebih besar, sehingga meningkatkan risiko volatilitas yang dinilainya tidak rapi dan sulit diperdagangkan.
“Dalam kerangka kami, pasar kripto kini semakin sensitif terhadap berita geopolitik dan kebijakan makro. Komunitas kripto juga sedang menghadapi jenis risiko yang lebih mirip pasar tradisional dibanding beberapa tahun lalu,” pungkas Santiment.


