Cryptoharian – Bitcoin (BTC) baru-baru ini mencatat pergerakan naik yang tajam setelah berhasil merebut kembali zona US$ 65.000 – US$ 66.000, sebuah area yang sebelumnya berfungsi sebagai resistensi. Salah satu analis teknikal di media sosial X bernama Max Trades, menilai pergerakan tersebut mengubah struktur jangka pendek menjadi lebih konstruktif, dan kini zona yang sama berpotensi menjadi support utama, terutama karena menurutnya area itu juga selaras dengan level Fibonacci yang penting.
Dalam pandangannya, Max tidak mengerjar harga di puncak lonjakan. Ia justru menunggu retest ke area US$ 65.000 – US$ 66.000 untuk mencari titik masuk posisi long.
“Asumsi saya, area support tersebut benar-benar bertahan dan mengonfirmasi perubahan peran ini dari resistensi menjadi penopang harga,” ungkap Max.
Jika skenario tersebut berjalan, target pertama yang ia soroti berada di sekitar US$ 68.300, area tengah rentang pergerakan yang ia anggap cocok untuk mengamankan sebagian keuntungan.
Setelah itu, fokus utamanya berada pada US$ 72.000, yang ia sebut sebagai range high dan menjadi target utama tempat ia berencana menutup sebagian posisi.
“Ada kemungkinan lanjutan jika momentum tetap kuat. Dalam skenario ini, saya akan membiarkan sebagian kecil posisi berjalan menuju target terakhir di sekitar US$ 74.500. Namun, itu hanya berlaku jika pasar menunjukkan tenaga lanjutan setelah target utama tercapai,” ujarnya.
Untuk manajemen resiko, Max Trades menempatkan level invalidasi di bawah low terbaru, karena penembusan ke bawah area tersebut, menurutnya akan merusak struktur bullish yang sedang terbentuk.
Sementara itu berdasarkan data terbaru dari CoinGecko pada Jumat (27/2/2026), Bitcoin berada di angka US$ 66.939. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 2,4 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Baca Juga: Dipengaruhi Tren Positif, Harga Uang Kripto Cardano Melonjak 10%
Di sisi lain, analis teknikal lain CryptoCon menilai pergerakan Bitcoin sejauh ini masih “patuh” pada area-area volume terbesar di volume profile, terutama setelah dua titik low lokal memantul dari blok volume yang paling tebal.
Dalam pembaruannya, ia menyoroti zona US$ 62.000 – US$ 71.000 sebagai area volume berat terbaru yang kembali “menahan” penuruna, sebuah pola yang, menurutnya, konsisten dengan cara pasar sering bereaksi pada level di mana banyak transaksi historis terjadi.
Namun bagian yang ia anggap paling krusial justru berada di bawah area tersebut. CryptoCon menekankan bahwa volume di rentang US$ 62.000 hingga US$ 30.000 terlihat sangat tipis, dan menciptakan apa yang sering disebut trader sebagai air pocket, yakni dengan sedikit dukungan volume historis, yang secara teori dapat membuat harga bergerak lebih cepat jika tekanan jual memaksa pasar ‘melompat’ ke area likuiditas berikutnya.
“Blok volume besar berikutnya berada jauh lebih rendah, di sekitar US$ 25.000 – US$ 30.000. Artinya, potensi penurunan bisa mencapai sekitar 40 ribu dolar dari level saat ini bila skenario ekstrem terjadi,” kata CryptoCon.
Ia menambahkan bahwa area US$ 25.000 – US$ 30.000 juga berimpit dengan beberapa konfluensi indikator lain yang ia pantau, termasuk apa yang ia sebut sebagai cycle bottom band dari magic bands V2, bear bands, serta level 1 dari golden ratio multiplier.
Dengan konfluensi tersebut, CryptoCon mengatakan rentang US$ 25.000 – US$ 30.000 masuk dalam radar sebagai kandidat dasar siklus dalam kerangka Halving Cycles Theory, dengan jendela waktu yang ia soroti berada di November 2026 hingga Januari 2027.
“Akan tetapi penting juga fleksibilitas, yakni meskipun zona itu menjadi referensi, harga tidak selalu mengikuti peta dengan presisi dan pasar bisa membentuk dasar lebih cepat, lebih lambat atau di level yang berbeda dari perkiraan,” pungkas CryptoCon.

