Cryptoharian – Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu gelombang aksi jual berbasis sentimen.
Laporan pasar menyebut kekhawatiran konflik yang melebar mendorong investor beralih ke mode defensif, membuat pergerakan harga kripto lebih mudah “tersentak” oleh headline dibanding katalis fundamental.
Menurut analisis CryptoQuant yang dikutip dalam garapan ini, tekanan jual di pasar derivatif meningkat tajam. Volume jual Bitcoin disebut melonjak hampir US$ 1,8 miliar, menggambarkan derasnya order jual yang menghantam order book ketika pelaku pasar berusaha mengurangi risiko.
Di saat yang sama, derivatives pressure index dilaporkan turun dari 30 persen ke 18 persen, sinyal bahwa sentimen jangka pendek bergeser semakin bearish dan dominasi penjual menguat.
Di tengah kondisi tersebut, Bitcoin sempat turun menuju area US$ 63.000 sebelum memantul kembali di atas US$ 64.000. CryptoQuant menilai ketidakseimbangan di pasar derivatif mencerminkan kehati-hatian yang meningkat, di mana pergerakan harga menjadi lebih volatil dan sulit diprediksi karena aliran dana didorong emosi dan manajemen risiko, bukan semata struktur permintaan-penawaran jangka panjang.
Namun, CryptoQuant juga mengingatkan bahwa fase panic selling sering menciptakan paradoks. Ketika posisi pasar terlalu satu arah dan kepanikan mencapai ekstrem, pasar kerap melakukan pergerakan berlawanan untuk “menghukum” posisi yang terlalu padat.
Dalam konteks itu, CryptoQuant membuka kemungkinan pantulan teknikal, meski menekankan timing-nya sulit dipatok dan tidak otomatis berarti tren sudah berubah.
Baca Juga: Pemulihan Bitcoin ke US$70.000 Belum Pulihkan Kepercayaan Derivatif
Sementara itu, analis bernama Colin mengangkat level teknikal yang dianggap krusial. Dalam unggahan di X, ia memperingatkan risiko koreksi lebih dalam jika Bitcoin gagal mempertahankan US$ 62.600.
Menurutnya, penembusan level ini dapat membuka jalan menuju uji ulang area US$ 60.000, bahkan memicu breakdown ke bawah zona tersebut jika tekanan jual berlanjut.
Di sisi lain, narasi pasar juga dipenuhi spekulasi soal target penurunan. Dalam garapan ini disebutkan para trader sedang memasang taruhan pada skenario Bitcoin turun di bawah US$ 60.000, dengan peluang yang dinilai tinggi menuju US$ 55.000 dan US$ 50.000.
Angka-angka tersebut mencerminkan suasana yang cenderung risk-off, meski perlu dicatat bahwa peluang di pasar prediksi atau positioning derivatif bersifat dinamis dan dapat berubah cepat mengikuti berita dan volatilitas.
Tidak semua analis sepakat dengan skenario suram. Ted Pillows justru menyoroti pola historis saat kripto bereaksi terhadap kejadian geopolitik besar.
Ia mencontohkan beberapa episode ketika Bitcoin sempat dump di awal berita buruk, lalu berbalik reli cukup kuat setelah pasar “mencerna” ketidakpastian. Dengan logika itu, ia menyebut peluang pantulan tetap terbuka jika kepanikan mereda dan pasar mulai memosisikan ulang risiko.
Pada akhirnya, arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh dua hal: seberapa lama tensi geopolitik terus memicu risk-off, dan bagaimana Bitcoin bereaksi di level-level kunci seperti US$ 62.600 dan US$ 60.000. Jika tekanan mereda, pantulan teknikal bisa muncul.
Namun jika arus berita terus menambah ketidakpastian, volatilitas tinggi kemungkinan menjadi tema utama dalam waktu dekat.


