Pasar Asia anjlok pada hari Senin karena dampak dari serangan militer AS dan Israel ke Iran menyebabkan harga minyak melonjak, saham merosot, dan investor buru-Pasar Asia anjlok pada hari Senin karena dampak dari serangan militer AS dan Israel ke Iran menyebabkan harga minyak melonjak, saham merosot, dan investor buru-

Bitcoin Lampaui Saham saat Pasar Asia Tertekan akibat Serangan Iran

2026/03/02 10:37
durasi baca 6 menit

Pasar Asia anjlok pada hari Senin karena dampak dari serangan militer AS dan Israel ke Iran menyebabkan harga minyak melonjak, saham merosot, dan investor buru-buru mencari aset aman — namun Bitcoin bertahan lebih baik dari perkiraan, diperdagangkan di sekitar US$66.500 setelah akhir pekan yang membuatnya berfluktuasi antara US$63.000 dan US$68.000.

Dengan Selat Hormuz praktis tertutup dan harga Brent naik hingga 13%, konflik ini kini menguji apakah likuiditas Bitcoin yang berjalan 24/7 membuatnya menjadi penahan guncangan krisis atau hanya sekadar aset berisiko lain yang ikut tertarik ke bawah.

Asia Dibuka di Zona Merah, lalu Pangkas Kerugian

Indeks Nikkei Jepang merosot hingga 2,15% pada pembukaan, kehilangan lebih dari 1.260 poin. Hingga tengah hari, penurunannya menyusut menjadi 1,66% di level 57.875. Hang Seng Hong Kong turun 2,54%, sedangkan Straits Times Singapura turun 2,13%. Shanghai bertahan lebih baik, hanya turun 0,45%.

Saham maskapai penerbangan di seluruh kawasan — seperti Qantas, Singapore Airlines, dan Japan Airlines — anjlok lebih dari 5% karena penutupan Hormuz mengganggu jalur penerbangan dan menyebabkan biaya bahan bakar melonjak. Maskapai asal Cina juga terpukul cukup parah.

Kenaikan harga minyak yang tajam di awal sesi cepat memudar. Brent sempat melonjak hingga 13% saat pembukaan, namun harga WTI naik hanya 4,24% hingga tengah hari. Futures indeks saham AS juga pulih, dengan S&P 500 turun 0,67% dan Dow melemah 0,71% — jauh lebih baik dari posisi terendah sebelumnya yang lebih dari 1%. Emas naik 1,76%.

Sektor energi Cina justru bergerak berlawanan arah. PetroChina dibuka naik 7% di Shanghai dan Indeks Energi CSI melonjak 5%. Kospi Korea, yang merupakan salah satu pasar berkinerja terbaik di Asia tahun ini, tutup pada hari Senin karena hari libur nasional — sehingga reaksi besar kemungkinan akan terjadi pada Selasa.

Bitcoin, yang turun 2,2% dalam sehari, justru mengungguli kerugian tajam di futures indeks saham dan indeks saham Asia lainnya.

Akhir Pekan yang Liar untuk Aset Kripto

Gejolak dimulai pada hari Sabtu ketika serangan AS-Israel menghantam berbagai target di Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Bitcoin turun di bawah US$64.000 hanya dalam beberapa jam ketika total pasar aset kripto kehilangan sekitar US$128 miliar nilainya, dengan terjadinya likuidasi paksa yang menjalar ke seluruh pasar derivatif.

Rebound terjadi dengan cepat. Setelah media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Khamenei, para trader berspekulasi bahwa kekosongan kekuasaan dapat mempercepat de-eskalasi sehingga mendorong Bitcoin kembali naik ke atas US$68.000 di likuiditas tipis pada hari Minggu. Namun, sentimen optimistis segera pudar ketika Iran meluncurkan serangan balasan rudal dan drone ke seluruh kawasan Teluk, menyerang target di Israel, UEA, dan Bahrain, yang kemudian menyeret harga ke bawah US$66.000 pada Minggu malam waktu New York.

Pada Senin pagi waktu Asia, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$66.543, dengan pergerakan harga 24 jam di kisaran US$65.149 hingga US$68.043. Volume perdagangan 24 jam melampaui US$43,6 miliar, menandakan aktivitas yang makin tinggi karena para trader menata ulang posisi jelang pembukaan pasar AS.

Hormuz: Risiko Sebenarnya

Risiko pasar terbesar saat ini adalah tertutupnya Selat Hormuz. Sekitar 20% minyak dunia yang diangkut laut melewati jalur ini. Sinyal digital menunjukan lalu lintas kapal tanker nyaris berhenti. Setidaknya tiga kapal sudah diserang di dekat mulut Teluk Persia. Para ekonom mengingatkan jika penutupan ini berlangsung lama, harga minyak bisa melonjak hingga US$108 per barel.

OPEC+ mencoba menenangkan pasar pada hari Minggu dengan mengumumkan kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April—lebih besar dari perkiraan analis. Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, dan empat anggota lain akan menambah pasokan. Tetapi, para analis mengingatkan bahwa langkah ini mungkin hanya memberikan sedikit bantuan. Jika arus minyak dari Teluk masih tersendat, tambahan produksi tak banyak berarti. Rute ekspor kini lebih penting dibanding target produksi utama.

Bagi aset kripto, guncangan minyak ini membawa dua ancaman. Harga energi yang lebih tinggi langsung meningkatkan ekspektasi inflasi sehingga bisa menunda pemangkasan suku bunga The Fed yang selama ini diharapkan pasar. Meskipun OPEC+ turun tangan, gangguan panjang di Hormuz bisa membuat harga minyak tetap tinggi cukup lama hingga memicu kenaikan angka inflasi, yang berdampak negatif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Katup Tekanan atau Aset Risiko?

Aksi akhir pekan memperkuat identitas Bitcoin yang kini terus berkembang di tengah krisis geopolitik. Ketika pasar tradisional tutup, crypto menyerap tekanan jual dari saham, obligasi, dan komoditas. Para analis menyebutnya sebagai efek “pressure valve”. Bitcoin menjadi satu-satunya aset besar yang likuid dan diperdagangkan 24 jam non stop. Ia menyerap sebagian besar arus keluar dana risiko akhir pekan. Namun penemuan harga sejati diperkirakan baru benar-benar terjadi pada Senin saat pasar saham AS dan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot kembali dibuka.

Faktor ETF ini pun menambah variabel baru. ETF Bitcoin spot membukukan arus masuk bersih hampir US$254 juta dalam tiga sesi perdagangan minggu lalu. Pembukaan pada hari Senin dapat menguji apakah para holder institusi memilih tetap bertahan di tengah gejolak geopolitik yang makin panas.

Funding rate pada futures Bitcoin kini berubah tajam menjadi negatif, sementara indeks Fear and Greed Kripto CMC berada di level 15—berada di zona “Extreme Fear” di mana indeks ini sudah bertahan selama berminggu-minggu. Beberapa analis melihat hal ini sebagai sinyal kontra-arah, dengan argumen bahwa pasar secara mekanis membayar trader untuk membuka posisi long.

Apa yang Selanjutnya

Kepanikan awal kini mulai mereda setelah Presiden Trump mengatakan kepada New York Times bahwa ia bersedia menghapus sanksi terhadap Iran jika kepemimpinan barunya bersikap pragmatis. Seorang pejabat senior Gedung Putih juga mengutarakan kepada media bahwa kepemimpinan sementara Iran telah memberi sinyal bersedia berdialog, dan Trump mengatakan ia sepakat untuk melakukan pembicaraan.

Beberapa strategi di Wall Street mengingatkan agar tidak buru-buru membeli di harga bawah. Mereka menilai episode kali ini berisiko berlangsung lebih lama dibanding gejolak geopolitik yang biasanya sudah akrab dengan investor.

Bagi Bitcoin, yang sudah turun 47% dari rekor tertinggi Oktober di US$126.000, level support US$60.000 tetap menjadi batas penting. Jika harga turun menembus batas itu, bisa jadi membuka jalan menuju kisaran pertengahan US$50.000. Namun jika berhasil bertahan dan naik konsisten di atas US$70.000, potensi short squeeze bisa terjadi karena banyak posisi bearish sudah menumpuk di pasar derivatif.

Dengan rilis data CPI pada 11 Maret dan keputusan The Fed pada 18 Maret, pasar aset kripto kini menghadapi rangkaian pemicu volatilitas yang makin sulit dinavigasi akibat konflik Iran ini.

Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.