Wall Street memberikan peringatan inflasi. Dari pasar obligasi sampai ke jajaran eksekutif, banyak sinyal mulai bermunculan bahwa serangan AS-Israel ke Iran bisWall Street memberikan peringatan inflasi. Dari pasar obligasi sampai ke jajaran eksekutif, banyak sinyal mulai bermunculan bahwa serangan AS-Israel ke Iran bis

Alarm Inflasi Wall Street dari Iran — Apa Artinya untuk Aset Kripto

2026/03/03 08:01
durasi baca 5 menit
Untuk memberikan masukan atau menyampaikan kekhawatiran terkait konten ini, silakan hubungi kami di [email protected]

Wall Street memberikan peringatan inflasi. Dari pasar obligasi sampai ke jajaran eksekutif, banyak sinyal mulai bermunculan bahwa serangan AS-Israel ke Iran bisa kembali memicu tekanan harga yang selama bertahun-tahun sudah coba dijinakkan oleh The Fed — dan ini berdampak besar pada suku bunga, aset berisiko, serta pasar aset kripto.

Pertanyaannya sekarang, apakah guncangan minyak dari Iran bakal menjadi pemicu yang menggagalkan jadwal pemotongan suku bunga yang selama ini diandalkan Wall Street.

Pasar Obligasi Bergerak Lebih Dulu

Pasar Treasury langsung bertindak cepat menyikapi ancaman ini. Imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak 10 basis poin menjadi 4,03% pada hari Senin — melesat paling tinggi dalam satu hari sejak bulan Oktober lalu — seiring harga minyak naik lebih dari 6% setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir benar-benar terhenti.

Ekspektasi pemotongan suku bunga pun anjlok bersamaan. Para trader kini memperkirakan pemangkasan pertama oleh The Fed baru terjadi paling cepat pada bulan September, bahkan taruhan untuk pemotongan ketiga di tahun 2026 sudah hampir hilang sama sekali. Padahal beberapa minggu sebelumnya, pelaku pasar masih sangat optimistis mengenai siklus pelonggaran kebijakan moneter ini.

Pesan dari pasar obligasi sudah jelas: risiko inflasi kembali muncul, dan ruang gerak The Fed mungkin terbatas.

Yellen dan Dimon Bunyi Alarm Peringatan

Dua sosok paling berpengaruh di keuangan Amerika semakin menegaskan pesan tersebut hari Senin kemarin.

Mantan Menteri Keuangan Janet Yellen memperingatkan bahwa konflik Iran membuat The Fed “bahkan makin menunda” pemangkasan suku bunga, sehingga para pengambil kebijakan semakin enggan memangkas suku bunga. Saat berbicara di konferensi pelayaran S&P Global TPM26, Yellen menuturkan bahwa inflasi saat ini sudah berada di kisaran 3% — satu poin persentase di atas target The Fed — dengan tarif era Trump menyumbang sekitar setengah poin dari laju tersebut.

Kekhawatiran Yellen justru lebih pada sisi psikologis. The Fed, ucap dia, harus waspada bahwa para pelaku pasar bisa saja menyimpulkan: “Ya, mereka memang sudah menurunkan ke 3%, tapi mereka tidak sungguh-sungguh ingin turunkan ke 2%.” Jika persepsi itu menyebar, maka risiko inflasi tinggi bisa terus melekat pada ekspektasi masyarakat — dan inilah mimpi buruk bagi para bank sentral.

CEO JPMorgan Jamie Dimon juga menegaskan hal serupa, memperingatkan bahwa inflasi bisa jadi “musang di pesta” bagi perekonomian AS. Dimon memang mengakui jika konflik berlangsung singkat, dampaknya ke inflasi akan terbatas, tapi ia juga menekankan bahwa jika kampanye militer ini berkepanjangan, situasinya akan jauh berbeda.

Apa Arti Inflasi untuk Pasar

Jika inflasi ternyata lebih sulit turun dibandingkan yang diperkirakan, dampaknya akan terasa ke seluruh kelas aset.

Bagi saham, suku bunga tinggi untuk waktu lama akan membuat valuasi menyusut, terutama untuk saham teknologi dan pertumbuhan yang sensitif terhadap tingkat diskonto. Sesi perdagangan hari Senin sudah menunjukkan prakiraannya: Indeks S&P 500 sempat turun lebih dari 1% dalam sehari sebelum akhirnya kembali mendatar, sektor-sektor defensif seperti energi dan pertahanan tampil lebih baik, sedangkan maskapai justru melemah tajam.

Sementara di aset kripto, situasinya lebih kompleks. Harga Bitcoin naik 5,7% ke US$69.424 pada hari Senin, meski obligasi dijual—pergerakan ini dibaca sebagian pihak sebagai aksi lari ke aset keras di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran inflasi. Reli emas ke atas US$5.300 juga menguatkan narasi tersebut.

Tetapi, apabila suku bunga tinggi bertahan lama, hal ini akan menjadi tantangan besar bagi prospek bullish aset kripto. Pengalaman di bear market 2022 sudah menunjukkan betapa tajamnya harga aset digital terkoreksi saat likuiditas mengetat dan The Fed bersikap hawkish. Jika harapan pemotongan suku bunga terus menurun, gairah risiko di pasar kripto bisa menghadapi tekanan dalam beberapa bulan ke depan.

Tidak Semua Orang Bersikap Bearish

Meskipun begitu, tidak semua pihak di Wall Street sepakat dengan skenario buruk tersebut.

Tim strategi Morgan Stanley yang dipimpin Mike Wilson menyebut konflik Timur Tengah sepertinya tidak akan menggagalkan pandangan bullish mereka terhadap saham AS, sepanjang harga minyak tidak melonjak tajam lalu bertahan lama di atas. Tim strategi ekuitas JPMorgan bahkan menganggap eskalasi ini sebagai peluang beli, karena menurut mereka fundamental pasar masih tetap positif.

Strategis veteran Louis Navellier bahkan lebih optimistis, memprediksi aksi militer ini pada akhirnya akan “menghilangkan ketidakpastian besar” dan memicu reli lega setelah kepemimpinan pro-Barat muncul di Iran serta ekspor minyak mentah kembali berjalan, demikian ia tulis pada InvestorPlace.

Dewan Atlantik menyuarakan nada serupa, menjelaskan bahwa infrastruktur energi global masih utuh, fundamental suplai sebelum konflik juga sehat, dan justru variabel penentunya ada pada durasi konflik — bukan pada serangan itu sendiri.

Pertanyaan tentang Durasi

Pada akhirnya, semua proyeksi bermuara pada satu variabel: berapa lama Selat Hormuz bakal tetap efektif tertutup.

Jika konflik selesai hanya dalam hitungan hari, dampak inflasi kemungkinan hanya berupa lonjakan energi sementara—memang menyakitkan, namun masih bisa dihadapi. Namun, bila gangguan berlangsung selama berminggu-minggu, risiko bertambah dengan datangnya musim transisi bensin musim panas, inflasi inti yang sulit turun, dan tekanan harga akibat tarif, sehingga The Fed terpaksa menahan kebijakan ketat hingga jauh ke tahun 2026.

Bagi investor kripto, situasi ini membuat kalender geopolitik sama pentingnya dengan metrik on-chain. Mungkin Bitcoin sekarang sedang reli karena aliran dana ke aset safe-haven, namun jika prediksi Yellen dan Dimon soal laju inflasi benar terjadi, perjalanan selanjutnya bisa jadi akan jauh lebih berat sebelum akhirnya membaik.

Peluang Pasar
Logo INI
Harga INI(INI)
$0.10833
$0.10833$0.10833
+0.65%
USD
Grafik Harga Live INI (INI)
Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.