Data on-chain terbaru menunjukkan divergensi menarik di pasar kripto. Di satu sisi, cadangan USDT di bursa Binance melonjak tajam hingga miliaran dolar. Namun di sisi lain, investor Bitcoin jangka pendek justru mengalami tekanan kerugian yang semakin dalam.
Perbedaan kondisi ini memunculkan pertanyaan baru di kalangan analis: apakah pasar sedang bersiap untuk reli baru atau justru menghadapi tekanan jual lanjutan.
Dilaporkan Crypto Quant, data transaksi USDT melalui jaringan TRON (TRC20) menunjukkan lonjakan signifikan pada cadangan stablecoin di bursa kripto.
Dalam periode sekitar satu bulan, cadangan USDT di Binance berubah drastis dari sekitar minus US$460 juta pada 8 Januari menjadi lebih dari US$4,55 miliar pada 7 Februari. Artinya, terjadi arus masuk likuiditas lebih dari US$5 miliar.
Sepanjang Februari, cadangan tersebut juga tercatat tetap berada di atas US$4 miliar.
Lonjakan ini sering dianggap sebagai indikator adanya “dry powder”, yakni likuiditas siap pakai yang dapat digunakan investor untuk membeli aset kripto.
Di tengah meningkatnya likuiditas, data lain menunjukkan kondisi berbeda pada investor Bitcoin jangka pendek atau short-term holders (STH).
Indikator STH realized capitalization menunjukkan penurunan tajam hingga sekitar minus US$62,5 miliar per 3 Maret 2026.
Level ini terakhir kali terlihat pada September 2024, periode yang kemudian diikuti pembentukan dasar harga Bitcoin di sekitar US$53.000.
Penurunan ini menandakan banyak investor jangka pendek sedang menanggung kerugian belum terealisasi.
Kondisi tersebut sering memicu tekanan psikologis di pasar karena kelompok investor ini cenderung lebih cepat menjual aset ketika mengalami kerugian.
Menurut Tim Research Tokocrypto, divergensi ini berarti likuiditas siap tembak telah berkumpul, tapi banyak holder jangka pendek masih dalam posisi rugi dan rawan jual panik.
“Setup historis bisa jadi dasar bottoming, tapi timing entry tetap butuh konfirmasi,” jelasnya.
Baca juga: LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar
Data juga menunjukkan penurunan signifikan pada realized capitalization milik investor jangka pendek dalam beberapa bulan terakhir.
Sejak November 2025 hingga 2 Maret 2026, nilai realized cap kelompok ini turun dari sekitar US$658 miliar menjadi US$535 miliar. Artinya, terjadi penurunan sekitar US$123 miliar.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya harga Bitcoin dari sekitar US$88.000 ke bawah US$66.000.
Dalam siklus pasar sebelumnya, penurunan tajam seperti ini sering terjadi saat fase kapitulasi, yaitu ketika investor yang rentan mulai keluar dari pasar.
Setelah fase tersebut selesai dan tekanan jual mereda, pasar sering kali memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.
Kombinasi antara meningkatnya cadangan USDT di bursa dan tekanan pada investor jangka pendek menciptakan situasi yang cukup unik di pasar kripto.
Di satu sisi, likuiditas besar menunjukkan potensi daya beli yang sedang terbentuk. Namun di sisi lain, tekanan kerugian pada investor jangka pendek dapat memicu aksi jual tambahan.
Para analis menilai arah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah likuiditas baru tersebut benar-benar digunakan untuk membeli Bitcoin atau justru menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Baca Juga: Jelajahi Interoperabilitas Blockchain: Memahami LayerZero (ZRO)
Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
The post $5 Miliar USDT Masuk Bursa, Tapi Investor Bitcoin Justru Panik? appeared first on Tokocrypto News.


