UEA telah mengumpulkan AED1,1 miliar ($300 juta) melalui lelang obligasi perbendaharaan berdenominasi dirham UEA pertamanya setelah dimulainya konflik AS-Israel-Iran.
Lelang tersebut menyaksikan permintaan tinggi dari dealer utama untuk T-bond yang jatuh tempo pada September 2027 dan Januari 2031. Total penawaran mencapai AED4,9 miliar, oversubscription sebesar 4,4 kali, lapor kantor berita milik negara Wam, mengutip kementerian keuangan.
Yield to maturity atau imbal hasil yang diantisipasi berada di 3,73 persen dan 3,85 persen untuk tranches T-bond yang jatuh tempo pada September 2027 dan Januari 2031.
Kementerian mengatakan permintaan tersebut mencerminkan kepercayaan berkelanjutan investor pada sektor keuangan UEA dan ekonomi nasional yang tangguh di tengah ketidakpastian pasar.
Yield yang dicapai mewakili spread ketat komparatif hingga 16 basis poin di atas US Treasuries yang sebanding pada saat penerbitan.
Obligasi akan dicatatkan di Nasdaq Dubai, meningkatkan akses investor di pasar sekunder. Bank Sentral UEA adalah agen penerbit dan pembayaran.
Pada Februari, order book untuk penjualan obligasi berdenominasi dolar AS dua tranches Abu Dhabi melebihi $11 miliar.
Kabinet UEA menyetujui anggaran federal untuk 2026 pada Oktober, dengan estimasi pendapatan AED92,4 miliar dan pengeluaran yang seimbang dan serupa.
Pada Juli, UEA mengumumkan alokasi federal sebesar AED900 miliar untuk siklus anggaran 2027-2029.


