Cryptoharian – Harga Bitcoin (BTC) kembali menyentuh level US$ 72.000 dan berada di area resisten penting dalam beberapa pekan terakhir. Namun, analis kripto Mizer di media sosial X, menilai bahwa peluang penurunan jangka pendek kini lebih besar dibandingkan potensi kenaikan lanjutan.
Menurut Mizer, posisi harga saat ini berada di puncak ‘zona 2’ sekaligus area tertinggi dalam range multi-mingguan, yang selama ini menjadi batas atas pergerakan Bitcoin.
“Kita berada di puncak zona 2, dan yang lebih penting, di level tertinggi rentang multi minggu ini,” ungkap Mizer.
Mizer menegaskan bahwa meskipun ada peluang breakout, struktur pasar saat ini masih menunjukkan kondisi ranging atau sideways.
“Selama belum ada bukti breakout yang jelas, saya masih menganggap harga berada dalam range,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga cenderung kembali ke tengah range sebelum menentukan arah berikutnya.
Skenario Utama: Koreksi ke US$ 69.000
Skenario utama yang diprediksi adalah penurunan harga menuju area US$ 69.000 sebagai langkah awal. Level ini dianggap sebagai area ‘sweep’ likuiditas sebelum pasar menentukan arah selanjutnya.
Setelah mencapai level tersebut, ada dua kemungkinan:
Baca Juga: Aktivitas Bitcoin Anjlok ke Level 10 Tahun, Sinyal Bahaya?
Mizer menilai skenario ini memiliki probabilitas lebih tinggi dibandingkan breakout langsung dari level saat ini.
“Jalur yang saya harapkan adalah sapuan ke sekitar US$ 69.000 untuk memulai, dan dari sana, tergantung pada reaksinya, kita akan naik kembali (1-A) atau jika tidak ada reaksi, kita turun lebih rendah (1-B),” kata Mizer.
Skenario Alternatif Jika Breakout Terjadi
Meski cenderung bearish dalam jangka pendek, Mizer tidak menutup kemungkinan akan terjadinya breakout.
Jika Bitcoin berhasil menembus US$ 72.000 dengan kuat, maka target berikutnya berada di kisaran US$ 74.000, bahkan berpotensi melanjutkan kenaikan ke area US$ 78.000 hingga 82.000.
Namun, skenario ini dinilai belum menjadi kemungkinan utama saat ini.
“Kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita. Perkembangan geopolitik, kebijakan ekonomi, atau berita besar lainnya dapat memicu volatilitas tinggi dalam waktu singkat,” pungkas Mizer.

