Dunia kripto sudah bertahun-tahun mengejar momen besarnya di ranah institusional. Banyak perhatian tertuju pada exchange-traded fund (ETF) Bitcoin, dana ter-tokenisasi, stablecoin, dan janji Wall Street yang akan pindah ke dalam chain. Tapi, salah satu contoh penggunaan blockchain yang paling jelas justru ada di sudut keuangan yang kurang menarik: trade finance.
Itulah pasar yang Travis John, Head of Institutional DeFi di XDC Network, yakini bisa blockchain tingkatkan secara praktis.
Berbicara di Consensus Miami, Travis menggambarkan sistem perdagangan global yang masih bergantung pada catatan terpisah, koordinasi bank yang lambat, proses serba kertas, dan pendanaan mahal.
Masalahnya mudah dipahami. Satu pengiriman kopi bisa melibatkan sembilan pihak. Pengiriman tembaga bisa sampai sebelas pihak. Bank, eksportir, importir, penyedia logistik, dan penyandang dana semua terlibat dalam satu transaksi, tapi mereka sering menggunakan catatan yang berbeda-beda.
Hal ini menyebabkan keterlambatan serta ketidakpercayaan. Jika bank tidak bisa melihat gambaran utuh, mereka memasang tingkat risiko lebih tinggi. Kalau importir atau eksportir kecil tidak bisa membuktikan catatannya secara jelas, mereka bahkan bisa benar-benar kehilangan akses pendanaan.
Travis menyoroti seberapa besar masalahnya.
Gap tersebut mempengaruhi perusahaan nyata yang mengirim barang sungguhan. Banyak eksportir dan importir tidak bisa menutup transaksi karena pemberi pinjaman kekurangan data terpercaya untuk menilai mereka secara adil.
Inilah kenapa penawaran dari XDC jadi lebih menarik daripada sekadar kisah tentang real-world asset generik. Jaringannya fokus pada dokumen perdagangan, detail pengiriman, sertifikat, invoice, dan bukti-bukti lain yang perlu dipercaya banyak pihak.
Travis menyebut blockchain sebagai lapisan pencatatan yang menyatukan semua bagian bergerak tadi ke dalam satu sistem bersama. Jika semua pihak bisa melihat informasi terverifikasi yang sama, maka pendanaan bisa jadi lebih murah dan lebih cepat.
Peluang ini makin besar untuk bisnis kecil yang terpinggirkan dari trade finance tradisional. Travis menuturkan banyak di antaranya terpaksa menerima pendanaan dengan biaya tinggi karena pemberi pinjaman gagal menilai mereka secara layak.
Dengan catatan yang lebih baik, ujar dia, biaya bisa turun drastis. Dalam beberapa kasus, ia memperkirakan efisiensinya bisa mencapai sekitar 50%.
XDC sudah lama membangun sistem trade finance, tapi Travis menjelaskan bahwa pasar membutuhkan mekanisme pembayaran praktis sebelum sistem ini bisa berkembang.
Ledger blockchain bisa melacak transaksinya, sedangkan stablecoin bisa memindahkan uangnya. Travis menggambarkan ada “lapisan stablecoin”, di mana fiat masuk di satu sisi, stablecoin dipakai di tengah, lalu fiat keluar di sisi lainnya.
Sebuah proses yang biasanya memakan waktu tujuh hari lewat jalur tradisional, kini bisa berlangsung lebih cepat, sekitar 24 jam tergantung pihak yang terlibat. Itu artinya penyelesaian transaksi lebih cepat, biaya lebih rendah, dan cashflow yang lebih lancar untuk bisnis ekspor-impor.
Untuk investor, Travis memposisikan trade finance sebagai hal yang lebih nyata dibanding sekadar imbal hasil spekulatif crypto.
Itulah daya tarik utamanya. Trade finance memang membosankan. Isinya administrasi, pengiriman, penyelesaian, dan pendanaan. Travis juga mengakui hal itu: “Memang tipikal bisnis yang membosankan.”
Tapi pasar yang membosankan biasanya justru paling membutuhkan infrastruktur kokoh. Jika kripto bisa mengurangi gesekan di pasar bernilai US$15 triliun, maka tak perlu hype untuk membuktikan nilainya.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan yang lebih terjangkau, penyelesaian transaksi lebih cepat, dan catatan yang benar-benar dipercaya. XDC pun bertaruh pada versi institutional DeFi seperti ini: sistem infrastruktur yang lebih baik untuk perdagangan global.

