Bitcoin telah kehilangan hampir 30% nilainya sejak Januari. Namun CEO Coinbase Brian Armstrong berargumen bahwa Bitcoin tetap menjadi salah satu alat paling kuat yang dimiliki masyarakat biasa untuk melawan kenaikan harga. Kesenjangan antara klaim dan kenyataan ini sulit diabaikan.
Armstrong memaparkan argumennya dalam sebuah postingan di X, dan kemudian mengulanginya di World Liberty Forum, sebuah acara yang diselenggarakan oleh keluarga Presiden AS Donald Trump.
Logikanya sederhana: inflasi secara diam-diam menghancurkan daya beli uang tunai. Orang-orang yang lebih kaya melindungi diri mereka dengan memindahkan uang ke saham, real estat, dan Bitcoin. Orang-orang yang tidak memiliki akses ke opsi yang sama terkena dampak paling parah dan tidak punya jalan keluar.
Ini adalah pengamatan yang sah. Para ekonom telah membuat argumen serupa selama bertahun-tahun — bahwa inflasi bertindak seperti pajak tersembunyi bagi mereka yang paling sedikit memiliki. Armstrong tidak salah tentang masalahnya. Namun, solusinya lebih sulit untuk dipertahankan.
Bitcoin tidak bergerak seperti tingkat inflasi yang lambat dan bertahap. Bitcoin bisa turun 20% dalam satu minggu. Bagi seseorang tanpa bantalan finansial, itu bukan perlindungan. Itu adalah eksposur terhadap jenis kerugian yang berbeda — yang bisa terjadi jauh lebih cepat daripada tingkat inflasi mana pun. Volatilitas bukan detail kecil. Ini adalah cacat utama dalam argumen tersebut.
Bagian yang lebih konkret dari pesan Armstrong melibatkan legislasi. CLARITY Act, yang saat ini sedang diperdebatkan di Kongres, bertujuan untuk mendefinisikan bagaimana aset digital diatur di AS — lembaga mana yang memegang otoritas dan dalam kondisi apa. Senator AS Bernie Moreno mengatakan para pembuat undang-undang mendorong untuk mengesahkan RUU tersebut pada bulan April.
Armstrong, berbicara di forum tersebut, menyebut versi seimbang dari RUU tersebut sebagai potensi kemenangan bagi perusahaan kripto, bank, dan konsumen. Pembicaraan telah berfokus pada stablecoin dan apakah mereka dapat menawarkan imbal hasil yang kompetitif tanpa bertentangan dengan aturan perbankan yang ada.
Keeping Pace With ChinaArmstrong juga meningkatkan taruhannya secara internasional. China sedang mengembangkan mata uang digital yang didukung pemerintah yang membayar bunga. Pesannya kepada regulator AS sangat langsung: tertinggal dalam kebijakan stablecoin, dan Amerika kehilangan posisi dalam kompetisi yang seharusnya dipimpinnya.
Ini adalah kekhawatiran yang nyata — meskipun argumen inflasinya masih kurang meyakinkan.
Gambar unggulan dari Pixabay, grafik dari TradingView


