Uang Primer atau M0 Adjusted Indonesia mencapai Rp2.281,5 triliun pada Agustus 2026. Menurut Bank Indonesia, jumlah tersebut tumbuh 16,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Pertumbuhannya masih tinggi, tetapi lajunya sedikit melambat dari 17,1% secara tahunan pada Juli. Selisih 0,8 poin persentase tersebut menunjukkan bahwa uang primer masih bertambah cepat, meskipun momentumnya tidak lagi sekuat bulan sebelumnya.
Data ini mudah diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa bertambahnya uang akan langsung mengangkat Bitcoin. Hubungannya tidak sesederhana itu. M0 mengukur lapisan dasar uang di dalam sistem moneter, bukan jumlah dana investasi yang siap digunakan untuk membeli aset kripto.
Sebelum likuiditas dapat memengaruhi permintaan Bitcoin, uang perlu melewati beberapa tahapan. Likuiditas perbankan harus diteruskan menjadi kredit atau transaksi, dana perlu sampai kepada rumah tangga dan perusahaan, pemilik dana harus mempunyai ruang untuk berinvestasi, lalu memilih Bitcoin dibandingkan berbagai alternatif lain.
Bitcoin juga diperdagangkan secara global. Perubahan M0 Indonesia hanya mewakili satu bagian kecil dari likuiditas yang membentuk harga BTC. Kebijakan The Fed, yield obligasi AS, kekuatan dolar, arus spot, stablecoin, dan leverage dapat memberikan pengaruh yang lebih besar.
Angka Utama dari Rilis Bank Indonesia
Bank Indonesia melaporkan tiga angka penting dalam perkembangan M0 Adjusted Agustus 2026:
M0 Adjusted mencapai Rp2.281,5 triliun.
Pertumbuhan M0 Adjusted tercatat 16,3% secara tahunan.
Laju pertumbuhan melambat dari 17,1% secara tahunan pada Juli 2026.
Giro bank umum di Bank Indonesia adjusted tumbuh 19,0% secara tahunan.
Uang kartal yang diedarkan tumbuh 12,9% secara tahunan.
Perbedaan antara 17,1% dan 16,3% adalah 0,8 poin persentase. Angka ini menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan, bukan penurunan jumlah uang primer.
M0 Adjusted masih bertumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Istilah seperti kontraksi atau pengetatan likuiditas belum dapat digunakan hanya berdasarkan perubahan pertumbuhan tahunan tersebut.
M0 Adjusted Indonesia mencapai Rp2.281,5 triliun pada Agustus 2026 dan tumbuh 16,3% secara tahunan. Pertumbuhannya melambat 0,8 poin persentase dari 17,1% pada Juli. Sumber: Bank Indonesia.
Apa yang Dimaksud dengan M0 Adjusted?
M0 adalah bentuk uang yang berada paling dekat dengan bank sentral. Ukuran ini pada dasarnya mencerminkan uang kartal yang beredar dan simpanan tertentu milik perbankan di bank sentral.
M0 disebut sebagai uang primer karena menjadi dasar bagi proses penciptaan uang dan penyaluran likuiditas di dalam sistem keuangan. Namun, uang primer tidak sama dengan total dana yang dapat langsung digunakan masyarakat untuk membeli barang, saham, emas, atau Bitcoin.
Lokasi uang dan fungsi setiap komponennya menentukan bagaimana likuiditas tersebut dapat memengaruhi aktivitas ekonomi.
Uang Kartal yang Diedarkan
Uang kartal mencakup uang tunai yang diedarkan untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Kenaikan uang kartal dapat mencerminkan aktivitas konsumsi yang meningkat, kebutuhan kas menjelang periode tertentu, perluasan ekonomi informal, atau perubahan kebiasaan pembayaran. Kenaikan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai lebih banyak dana untuk berinvestasi.
Jika pendapatan riil sedang tertekan atau biaya hidup meningkat, tambahan uang tunai dapat terserap untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan uang kartal tidak otomatis menghasilkan permintaan terhadap aset berisiko.
Giro Bank Umum di Bank Indonesia
Giro bank umum di Bank Indonesia merupakan dana yang berada di dalam sistem perbankan, bukan saldo investasi milik rumah tangga.
Komponen ini dapat mendukung penyelesaian transaksi antarbank, pemenuhan kewajiban tertentu, dan pengelolaan likuiditas. Peningkatan giro perbankan dapat memberikan ruang bagi bank untuk menjalankan aktivitas keuangan, tetapi belum tentu langsung diteruskan menjadi kredit.
Bank tetap menilai kualitas peminjam, kebutuhan modal, risiko gagal bayar, dan permintaan kredit. Ketika perusahaan dan rumah tangga enggan meminjam, likuiditas dapat tetap berada di dalam sistem perbankan tanpa menghasilkan peningkatan besar dalam belanja atau investasi.
Mengapa Bank Indonesia Menggunakan Ukuran Adjusted?
Bank Indonesia menjelaskan bahwa M0 Adjusted mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas.
Penyesuaian perhitungan tersebut mulai diterapkan pada Januari 2025 agar perkembangan uang primer dan pengaruh kebijakan likuiditas dapat dibaca dengan lebih jelas.
Tanpa penyesuaian, perubahan giro bank yang muncul karena desain kebijakan dapat membuat pembacaan M0 terlihat lebih lemah atau lebih kuat dari kondisi dasarnya. Ukuran adjusted berusaha mengurangi distorsi tersebut.
Artinya, pembaca tidak sebaiknya membandingkan M0 Adjusted dengan seri lain tanpa memeriksa apakah definisi dan metodologinya sama. Perubahan metode dapat menciptakan perbedaan yang berasal dari statistik, bukan dari perubahan perilaku ekonomi.
Pertumbuhan Tinggi, tetapi Momentumnya Melambat
Pertumbuhan 16,3% secara tahunan menunjukkan bahwa level M0 Adjusted masih jauh lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025. Namun, angka tersebut tidak berarti jumlah uang primer naik 16,3% hanya selama Agustus 2026.
Istilah secara tahunan atau year-on-year membandingkan satu bulan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Karena itu, angka tersebut dipengaruhi oleh kondisi pada kedua titik waktu.
Pertumbuhan tahunan dapat melambat meskipun jumlah uang primer masih bertambah dari bulan sebelumnya. Sebaliknya, pertumbuhan tahunan dapat meningkat karena basis pembanding tahun lalu rendah, bukan karena terjadi lonjakan besar dalam satu bulan.
Perbedaan antara level dan laju pertumbuhan perlu dijaga:
Level M0 menunjukkan jumlah uang primer pada satu waktu.
Pertumbuhan tahunan menunjukkan perubahan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan bulanan menunjukkan perubahan dibandingkan bulan sebelumnya.
Akselerasi berarti laju pertumbuhan menjadi lebih cepat.
Deselerasi berarti laju pertumbuhan melambat, meskipun nilainya masih bertambah.
Rilis Agustus memberikan angka level dan pertumbuhan tahunan, tetapi belum menjelaskan ke mana likuiditas bergerak setelah berada di dalam sistem. Untuk menjawab hubungan dengan Bitcoin, data tersebut perlu digabungkan dengan indikator lain.
M0 Bukan Uang Beredar Keseluruhan
M0 hanya menggambarkan lapisan dasar dari sistem moneter. Ukuran ini tidak mencakup seluruh simpanan dan instrumen yang dapat digunakan masyarakat maupun perusahaan untuk melakukan transaksi.
Uang beredar luas atau M2 memberikan cakupan yang lebih besar. M2 biasanya mencakup uang kartal, uang giral, dan simpanan lain dalam sistem keuangan sesuai definisi statistik Bank Indonesia.
Perbedaan ini penting karena kenaikan cadangan perbankan belum tentu diteruskan menjadi simpanan dan kredit di sektor swasta. Jika transmisi berjalan, pertumbuhan M0 dapat diikuti kenaikan M2 dan kredit. Jika transmisi terhambat, tambahan uang primer dapat tertahan di dalam sistem perbankan.
Hubungannya dapat disederhanakan sebagai berikut:
M0 menyediakan fondasi likuiditas, sedangkan M2 dan kredit membantu menunjukkan apakah likuiditas tersebut telah menyebar ke aktivitas ekonomi.
Karena itu, M0 yang tumbuh tanpa pertumbuhan M2 atau kredit yang sebanding akan memberikan sinyal berbeda dari kondisi ketika ketiganya meningkat bersama.
Jalur Likuiditas dari M0 Menuju Bitcoin
Tidak ada saluran langsung yang menghubungkan kenaikan giro bank di Bank Indonesia dengan pembelian Bitcoin. Transmisi likuiditas berlangsung melalui beberapa tahap, dan setiap tahap dapat memperkuat atau memutus hubungan tersebut.
A. Likuiditas Perbankan Harus Menjadi Kredit atau Transaksi
Likuiditas yang lebih besar dapat memberi bank ruang untuk menyalurkan pembiayaan. Namun, bank tidak otomatis memberikan kredit hanya karena dana tersedia.
Penyaluran tetap dipengaruhi oleh kelayakan peminjam, kualitas agunan, biaya pendanaan, kebutuhan modal, dan ekspektasi ekonomi. Permintaan kredit juga perlu tersedia dari rumah tangga atau perusahaan.
Jika bank berhati-hati dan debitur tidak ingin menambah kewajiban, pertumbuhan M0 dapat berhenti di tingkat perbankan.
B. Kredit Harus Menciptakan Pendapatan atau Ruang Investasi
Kredit yang disalurkan belum tentu masuk ke aset finansial. Dana dapat digunakan untuk membeli rumah, membayar modal kerja, membangun persediaan, atau menutup kebutuhan operasional.
Agar berpengaruh terhadap Bitcoin, sebagian dana atau dampak ekonominya perlu meningkatkan pendapatan, tabungan, atau kapasitas mengambil risiko.
Jika tambahan likuiditas hanya digunakan untuk mempertahankan konsumsi atau melunasi kewajiban, pengaruhnya terhadap permintaan kripto akan terbatas.
C. Pemilik Dana Harus Memilih Aset Berisiko
Setelah dana mencapai sektor swasta, pemiliknya masih harus menentukan alokasi. Pilihannya dapat mencakup deposito, obligasi, saham, emas, properti, kebutuhan usaha, atau aset kripto.
Keputusan tersebut dipengaruhi oleh expected return, suku bunga, inflasi, stabilitas pendapatan, dan toleransi risiko.
Ketika bunga deposito atau yield surat berharga rupiah tinggi, investor memperoleh return dari instrumen yang volatilitasnya relatif lebih rendah. Biaya peluang memegang Bitcoin kemudian menjadi lebih besar.
D. Dana Rupiah Perlu Masuk ke Infrastruktur Kripto
Investor Indonesia biasanya memulai dengan rupiah sebelum memperoleh aset digital. Proses tersebut memerlukan akun yang memenuhi ketentuan, saluran pembayaran, likuiditas transaksi, dan keputusan untuk menempatkan dana.
Pertumbuhan M0 tidak otomatis meningkatkan deposit rupiah ke layanan kripto. Konfirmasi perlu dicari melalui volume spot, jumlah pengguna aktif, frekuensi transaksi, atau data arus masuk yang relevan.
E. Kurs Mengubah Hasil dalam Rupiah
Harga Bitcoin global biasanya dikutip dalam dolar atau stablecoin berbasis dolar. Pengguna Indonesia kemudian melihat nilai tersebut setelah dikonversi ke rupiah.
Hubungannya dapat ditulis secara sederhana:
BTC/IDR ≈ BTC/USD × USD/IDR
Bitcoin dapat datar dalam dolar tetapi naik dalam rupiah ketika rupiah melemah. Sebaliknya, Bitcoin dapat naik dalam dolar tetapi mencatat kenaikan lebih kecil dalam rupiah ketika rupiah menguat.
Perubahan BTC/IDR akibat kurs tidak membuktikan bahwa likuiditas domestik menggerakkan harga Bitcoin global.
F. Likuiditas Global Tetap Lebih Dominan
Bitcoin memiliki market global yang beroperasi selama 24 jam. Permintaannya dipengaruhi oleh kondisi likuiditas dolar, kebijakan The Fed, yield obligasi AS, arus produk investasi, aktivitas institusional, stablecoin, dan leverage.
Perubahan M0 Indonesia dapat memengaruhi kemampuan sebagian pengguna domestik membeli aset, tetapi pengaruhnya terhadap harga global kemungkinan lebih kecil dibandingkan arus modal internasional.
Karena itu, analisis Bitcoin tidak sebaiknya menggunakan M0 satu negara sebagai satu-satunya variabel.
Likuiditas Tidak Sama dengan Risk Appetite
Likuiditas menggambarkan ketersediaan uang dan kemudahan memperoleh pendanaan. Risk appetite menggambarkan kesediaan menggunakan uang tersebut untuk mengambil risiko.
Keduanya dapat bergerak dalam arah berbeda.
Bank dapat memiliki likuiditas tinggi sementara permintaan kredit melemah. Rumah tangga dapat memegang uang tunai lebih banyak karena khawatir terhadap pendapatan. Perusahaan dapat menahan kas untuk membayar utang atau menjaga operasional.
Dalam kondisi seperti itu, M0 dapat bertumbuh tanpa menghasilkan permintaan besar terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, Bitcoin dapat naik ketika pertumbuhan M0 Indonesia melambat apabila terdapat katalis global yang lebih kuat. Penurunan yield dolar, arus spot institusional, perubahan regulasi, atau peningkatan likuiditas stablecoin dapat meningkatkan permintaan.
Korelasi yang terlihat dalam periode pendek juga belum membuktikan sebab akibat. M0 dan Bitcoin dapat bergerak searah karena keduanya dipengaruhi oleh faktor ketiga, seperti perubahan kebijakan moneter global atau pergeseran sentimen terhadap risiko.
Membandingkan dua chart secara visual tidak cukup. Analisis kausal membutuhkan data yang konsisten, periode memadai, pemilihan jeda waktu yang masuk akal, dan kontrol terhadap variabel lain.
Apakah Pertumbuhan M0 Selalu Menyebabkan Inflasi?
Pertumbuhan uang primer dapat menambah tekanan inflasi jika likuiditas diteruskan menjadi kredit dan permintaan barang maupun jasa tumbuh lebih cepat daripada kapasitas produksi.
Namun, hubungan tersebut tidak terjadi secara otomatis. Likuiditas dapat tertahan di perbankan, digunakan untuk mengganti sumber pembiayaan lain, atau diserap oleh peningkatan permintaan uang.
Kecepatan perputaran uang juga berpengaruh. Jumlah uang dapat bertambah, tetapi dampak terhadap harga lebih terbatas jika rumah tangga dan perusahaan memilih menabung atau menahan kas.
Bagi Bitcoin, inflasi juga tidak menghasilkan respons yang selalu sama. Narasi aset langka dapat mendukung permintaan dalam kondisi tertentu, tetapi inflasi yang tinggi dapat mendorong suku bunga naik dan mengurangi minat terhadap aset berisiko.
Karena itu, hubungan sederhananya bukan “uang naik, inflasi naik, Bitcoin naik.” Setiap tahap membutuhkan bukti tersendiri.
Data yang Masih Diperlukan
M0 merupakan titik awal, bukan gambaran lengkap likuiditas yang dapat digunakan sektor swasta. Beberapa indikator lain perlu diperiksa untuk menilai apakah transmisi benar-benar berlangsung.
Indikator Moneter dan Ekonomi
Pertumbuhan uang beredar luas atau M2.
Pertumbuhan kredit perbankan.
Kredit konsumsi dan kredit modal kerja.
Suku bunga deposito dan kredit.
Yield surat berharga rupiah.
Inflasi dan pertumbuhan pendapatan riil.
Penjualan ritel serta aktivitas konsumsi.
JISDOR dan volatilitas USD/IDR.
Indikator Bitcoin
Harga BTC/USD dan BTC/IDR.
Volume spot.
Open interest derivatif.
Funding rate.
Nilai likuidasi long dan short.
Perubahan likuiditas stablecoin.
Arus dana produk investasi Bitcoin.
Aktivitas wallet dan transfer on-chain.
Jika M0 dan M2 tumbuh, kredit menguat, biaya pendanaan turun, serta volume spot Bitcoin meningkat, tesis bahwa likuiditas mendukung aset berisiko memperoleh dasar yang lebih baik.
Jika M0 naik tetapi kredit lemah, suku bunga tetap tinggi, dan dana bertahan pada instrumen defensif, pengaruhnya terhadap Bitcoin akan lebih terbatas.
Tiga Kemungkinan Pembacaan Data
Pertumbuhan M0 Adjusted dapat menghasilkan implikasi berbeda tergantung pada jalur transmisinya. Tiga skenario berikut membantu memisahkan kemungkinan tersebut tanpa mengubahnya menjadi prediksi harga.
A. Likuiditas Menyebar ke Ekonomi dan Investasi
Bank menyalurkan lebih banyak kredit, aktivitas usaha meningkat, dan pendapatan rumah tangga membaik. Suku bunga riil juga tidak terlalu tinggi sehingga sebagian investor bersedia menambah eksposur terhadap aset berisiko.
Dalam kondisi tersebut, sebagian likuiditas dapat masuk ke saham, emas, dan kripto. Dukungan terhadap Bitcoin akan lebih meyakinkan jika kenaikan harga diikuti volume spot, pertumbuhan pengguna aktif, serta arus dana yang dapat diamati.
M0 menjadi indikator awal dalam skenario ini, bukan bukti akhir.
B. Likuiditas Tertahan di Sistem Perbankan
Giro bank di Bank Indonesia meningkat, tetapi pertumbuhan kredit dan permintaan pembiayaan tetap lemah. Rumah tangga serta perusahaan memilih berhati-hati, sementara investor mempertahankan dana pada deposito atau surat berharga.
Dalam skenario ini, M0 dapat bertumbuh tanpa menghasilkan dorongan berarti terhadap Bitcoin. Likuiditas tersedia, tetapi risk appetite dan transmisi ke sektor swasta tidak cukup kuat.
Sinyal utamanya adalah pertumbuhan M0 yang tidak diikuti percepatan M2, kredit, konsumsi, atau volume spot aset berisiko.
C. Likuiditas Domestik Tumbuh, tetapi Kondisi Global Menekan Bitcoin
Likuiditas Indonesia membaik, tetapi The Fed mempertahankan kebijakan ketat, yield AS naik, atau dolar menguat. Faktor global tersebut dapat menekan Bitcoin dalam dolar.
Jika rupiah ikut melemah, penurunan BTC/USD dapat terlihat lebih kecil dalam BTC/IDR. Bahkan, Bitcoin dalam rupiah dapat naik ketika harga dolarnya relatif datar.
Pengguna yang hanya melihat chart rupiah dapat salah menganggap perubahan tersebut sebagai bukti bahwa permintaan domestik sedang melonjak.
Peran Suku Bunga dalam Transmisi Likuiditas
Suku bunga menentukan biaya meminjam dan return alternatif yang tersedia bagi investor. Likuiditas yang tinggi belum tentu mendorong Bitcoin jika biaya kredit tetap mahal dan instrumen rupiah memberikan yield menarik.
Ketika suku bunga turun, biaya pembiayaan dapat berkurang dan return dari instrumen defensif ikut menurun. Kondisi tersebut dapat meningkatkan minat terhadap aset dengan potensi return lebih tinggi, termasuk Bitcoin.
Namun, alasan penurunan suku bunga juga perlu diperiksa. Jika suku bunga turun karena ekonomi melemah tajam, investor dapat tetap memilih kas dan aset defensif.
Pengaruh suku bunga terhadap Bitcoin tidak berjalan melalui satu jalur. Dampaknya terbentuk melalui kredit, valuasi aset, kurs rupiah, aliran modal, dan sentimen terhadap risiko.
Cara Membaca Bitcoin Setelah Rilis M0
Data M0 satu bulan tidak sebaiknya digunakan sebagai sinyal transaksi tunggal. Pengguna dapat membandingkan tanggal rilis dengan pergerakan Bitcoin, tetapi metode analisisnya perlu konsisten.
Pertama, gunakan tanggal observasi yang sama. Jangan membandingkan data bulanan yang berakhir pada Agustus dengan perubahan harga Bitcoin yang dipilih dari periode berbeda hanya karena hasilnya terlihat sesuai.
Kedua, bedakan harga penutupan dari pergerakan intraday. Lonjakan singkat yang kemudian terkoreksi tidak mempunyai makna yang sama dengan perubahan yang bertahan pada penutupan harian atau mingguan.
Ketiga, periksa volume. Kenaikan harga yang didukung pembelian spot memiliki struktur berbeda dari kenaikan yang terutama berasal dari likuidasi posisi short.
Keempat, periksa leverage. Open interest dan funding rate yang naik terlalu cepat dapat menunjukkan bahwa momentum semakin bergantung pada posisi derivatif.
Kelima, pertimbangkan jeda transmisi. Perubahan likuiditas tidak harus memengaruhi aset pada hari data diumumkan. Kredit, penempatan dana, dan rebalancing portofolio dapat memerlukan waktu.
Jeda waktu tersebut harus dipilih berdasarkan mekanisme ekonomi, bukan setelah melihat pergerakan harga. Mengubah periode analisis agar sesuai dengan hasil dapat menghasilkan kesimpulan yang bias.
Riwayat harga harian Bitcoin dapat digunakan untuk membandingkan perubahan harga dan volume di sekitar publikasi data M0 Adjusted Agustus 2026. Sumber data BTC: MEXC.
Indikator Konfirmasi dan Invalidasi
Tesis likuiditas membutuhkan bukti tambahan. M0 yang bertumbuh akan lebih relevan bagi Bitcoin jika transmisi moneter dan permintaan aset bergerak dalam arah yang sama.
Indikator yang Mendukung Tesis Likuiditas
M2 tumbuh bersama M0.
Pertumbuhan kredit menguat.
Suku bunga riil atau biaya pendanaan menurun.
Pendapatan dan konsumsi membaik tanpa lonjakan inflasi.
Volume spot Bitcoin meningkat.
Kenaikan harga tidak didominasi likuidasi short.
Funding rate tetap terkendali.
Open interest bertambah secara seimbang dengan volume spot.
Rupiah relatif stabil.
Likuiditas stablecoin global meningkat.
Indikator yang Melemahkan Tesis Likuiditas
M0 tumbuh tetapi M2 dan kredit melemah.
Dana perbankan tidak diteruskan ke sektor swasta.
Suku bunga dan yield instrumen defensif tetap tinggi.
Inflasi mengurangi pendapatan riil rumah tangga.
Dolar menguat dan likuiditas global mengetat.
Harga Bitcoin naik dengan volume spot yang lemah.
Open interest dan funding rate meningkat terlalu cepat.
Kenaikan BTC lebih banyak berasal dari short squeeze.
Arus stablecoin dan produk investasi melemah.
Rupiah turun tajam sehingga kenaikan BTC/IDR terutama berasal dari efek kurs.
Perubahan salah satu indikator belum cukup untuk menentukan arah Bitcoin. Namun, kombinasi beberapa sinyal dapat membantu membedakan likuiditas yang benar-benar masuk ke aset dari likuiditas yang hanya tersedia di tingkat sistem moneter.
Kesimpulan
Pertumbuhan M0 Adjusted sebesar 16,3% menunjukkan uang primer Indonesia masih berkembang cepat. Nilainya mencapai Rp2.281,5 triliun pada Agustus 2026, meskipun laju pertumbuhannya melambat 0,8 poin persentase dari Juli.
Data tersebut memberikan konteks mengenai fondasi likuiditas domestik, tetapi belum membuktikan bahwa dana baru sedang mengalir ke Bitcoin. Sebagian M0 berada dalam bentuk giro perbankan di Bank Indonesia, sementara kenaikan uang kartal dapat mencerminkan kebutuhan transaksi dan konsumsi.
Agar likuiditas mendukung Bitcoin, transmisi perlu terlihat pada M2, kredit, pendapatan, tabungan, dan keputusan alokasi. Setelah itu, pengaruh domestik masih berhadapan dengan suku bunga, USD/IDR, kebijakan The Fed, likuiditas dolar, arus stablecoin, dan struktur market Bitcoin.
Jawaban paling tepat adalah likuiditas dapat menjadi kondisi pendukung, tetapi M0 saja belum cukup untuk membuktikan dorongan terhadap Bitcoin. Tesis tersebut menjadi lebih kuat apabila pertumbuhan uang disertai kredit yang membaik, biaya peluang yang menurun, arus spot yang nyata, dan risk appetite yang meningkat.
Data berikutnya yang perlu diperhatikan bukan hanya angka M0 September. Perkembangan M2, kredit, suku bunga, rupiah, volume spot, dan leverage akan menunjukkan apakah likuiditas benar-benar bergerak dari sistem moneter menuju aset berisiko.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Artikel ini bukan rekomendasi investasi, sinyal trading, atau model prediksi harga. Hubungan antara likuiditas, uang beredar, kurs, dan aset kripto bersifat kompleks serta dapat berubah pada setiap periode. Pertumbuhan M0 tidak menjamin kenaikan Bitcoin atau hasil investasi tertentu.
Artikel-artikel yang dibagikan di halaman ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai referensi. Artikel tersebut tidak mewakili posisi atau pandangan MEXC. Seluruh hak merupakan milik MEXC. Jika Anda meyakini ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] untuk penghapusan segera. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten apa pun dan tidak bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, serta tidak boleh ditafsirkan sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC. Untuk mendapatkan wawasan ahli dan analisis mendalam, kunjungi MEXC Learn.






Mata uang kripto yang sedang tren saat ini dan menarik perhatian pasar yang signifikan
Mata uang kripto dengan volume trading tertinggi
Mata uang kripto yang baru saja masuk listing dan tersedia untuk trading