Arthur Hayes mulai lebih optimistis terhadap aset berisiko (aset kripto) karena ia percaya siklus likuiditas global sedang mulai berubah. Sederhananya, ini berarti kemungkinan akan ada lebih banyak uang tunai likuid yang tersedia di ekonomi AS untuk mendorong investasi.
Argumennya cukup sederhana: pasar sedang memantau transisi ketua The Fed, tapi perubahan likuiditas yang lebih besar sepertinya sudah mulai terjadi di dalam sistem perbankan.
Pencetakan uang tidak selalu berarti The Fed langsung meluncurkan stimulus seperti saat pandemi. Dalam praktiknya, hal ini bisa berarti penciptaan kredit yang lebih banyak, aturan neraca perbankan yang lebih longgar, pembelian Treasury yang meningkat, atau kebijakan yang menambah likuiditas dolar.
Karena itulah perubahan terbaru pada rasio leverage tambahan yang diperketat, atau eSLR, punya pengaruh penting. Aturan ini berlaku mulai 1 April 2026, dan mengubah standar leverage untuk bank-bank terbesar di Amerika Serikat.
Pihak regulator menyampaikan bahwa tujuannya mencegah aturan ini membuat bank jadi enggan ikut serta dalam aktivitas berisiko rendah dan berimbal hasil rendah seperti perantara pasar Treasury.
Hayes menuturkan bahwa perubahan eSLR “memungkinkan mereka menggunakan leverage lebih besar di neraca keuangannya dengan mengurangi biaya yang harus mereka bayar pada beberapa jenis aset yang mereka miliki.”
Perubahan ini tidak secara otomatis menciptakan triliunan dolar pinjaman baru. Bank masih membutuhkan permintaan, agunan, dan kesiapan terhadap risiko.
Tapi, perubahan ini memberikan ruang lebih bagi bank-bank besar untuk menyimpan Treasury dan memperbesar neraca mereka. Dalam sistem di mana penerbitan utang AS sangat besar, ini menjadi pelepasan likuiditas yang bermakna.
Hal ini mendukung gagasan utama bahwa pencetakan uang bisa dimulai dari pengaturan internal pasar keuangan sebelum terlihat sebagai pelonggaran kuantitatif secara terang-terangan.
The Fed belum sepenuhnya bersikap dovish. Pada 29 April, The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75% seraya mengakui bahwa perkembangan di Timur Tengah menambah ketidakpastian. Pemungutan suara kali ini cukup terpecah, karena beberapa pejabat menentang bias pelonggaran akibat risiko inflasi yang masih tinggi.
Inilah jebakannya. Inflasi akibat harga minyak mendorong penolakan terhadap pemangkasan suku bunga, tapi kebutuhan pasar Treasury dan perlambatan pertumbuhan mendorong dukungan likuiditas.
Hayes juga membantah kekhawatiran bahwa Kevin Warsh akan mengurangi neraca The Fed secara agresif. Menurutnya: pelonggaran eSLR sudah aktif, sedangkan rencana Warsh terkait neraca The Fed masih belum pasti dan butuh proses panjang.
Pendapat tersebut cukup wajar. Bahkan jika Warsh ingin mengecilkan neraca The Fed, catatan implementasi terbaru dari The Fed tetap membuka peluang pembelian Treasury bill untuk menjaga cadangan tetap cukup.
Jika gencatan senjata AS-Iran berjalan lancar dan pengiriman lewat Selat Hormuz perlahan kembali normal, likuiditas bisa menjadi faktor utama. Hal ini akan mendukung saham-saham, terutama bank, perusahaan teknologi besar, dan sektor lain yang sensitif terhadap likuiditas.
Aset kripto bisa bereaksi lebih cepat. Bitcoin menjadi contoh paling jelas untuk tren ini karena secara langsung merespons likuiditas dolar dan ekspektasi pelemahan nilai mata uang.
Komoditas terbagi dua. Harga minyak tetap tinggi jika risiko geopolitik masih ada. Emas kemungkinan tetap diuntungkan dalam kondisi apapun, karena berada di persimpangan antara risiko perang, ketakutan inflasi, dan pelonggaran moneter.
Jadi, peluang pencetakan uang mungkin sudah mulai terbuka, namun melalui sistem perbankan terlebih dahulu. Aset berisiko bisa diuntungkan, apabila faktor geopolitik tidak lagi mendorong inflasi.

