Harga minyak mentah AS diperdagangkan di dekat US$107,80 per barel pada Selasa setelah sinyal campuran dari pemerintahan Trump yang mengguncang pasar energi. Trader mengabaikan sementara keringanan sanksi dan kembali fokus pada risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Volatilitas ini memperlihatkan pola asimetris dalam penentuan harga minyak, di mana berita perang mendorong pergerakan harga yang lebih tajam dibanding kabar diplomasi. Para analis menyebut tren ini bisa membuat inflasi tetap tinggi dan memberi tekanan pada aset berisiko secara global, termasuk aset kripto.
Mantan manajer hedge fund dan pembawa acara Mad Money di CNBC, Jim Cramer, menyoroti ketidakseimbangan tersebut, dengan memperingatkan bahwa harga minyak mentah bisa kembali ke level tertinggi sebelumnya di US$119 jika pembicaraan antara Washington dan Teheran gagal.
Volatilitas makin meningkat setelah media Tasnim News Iran melaporkan kemungkinan AS akan memberikan keringanan atas sanksi minyak Iran. Rencana ini berkaitan dengan dimulainya lagi pembicaraan nuklir.
Kabar utama ini sempat mendorong harga minyak mentah turun ke bawah US$105 sebelum para trader membalikkan pergerakan tersebut, mirip seperti fluktuasi yang terjadi sebelumnya terkait isu gencatan senjata Iran.
Harga minyak turun sekitar 1% setelah Presiden Donald Trump menunda serangan ke Iran. Trump juga memperpanjang sejumlah keringanan yang terkait pengiriman minyak mentah Rusia.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menerbitkan izin umum selama 30 hari untuk kargo minyak Rusia. Kebijakan ini memberikan akses sementara bagi negara-negara yang bergantung pada energi terhadap barel minyak yang saat ini terdampar di laut.
Bessent menerangkan bahwa kebijakan ini bertujuan menstabilkan arus minyak mentah fisik dan menahan aksi penimbunan barel diskon oleh Cina.
Meski telah ada langkah diplomatik, koreksi tipis sebesar 1% menunjukkan bahwa para trader masih melihat risiko suplai tetap menjadi faktor utama.
Kenaikan harga minyak memicu ekspektasi inflasi dan membuat kondisi keuangan makin ketat, sehingga bisa menyebabkan pemangkasan suku bunga The Fed tertunda. Situasi seperti ini biasanya membuat minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin berkurang.
Inflasi akibat lonjakan energi kian menjadi tema utama ekonomi makro 2026, apalagi gangguan di sekitar selat Hormuz membatasi lalu lintas kapal tanker.
Ada tiga katalis utama yang menjadi perhatian dalam waktu dekat, yaitu:
Jika jalur diplomasi terhenti, para trader memperkirakan volatilitas harga minyak akan tetap tinggi, dan jika terjadi guncangan energi berkepanjangan, likuiditas akan makin ketat serta pergerakan aset digital pun jadi semakin tajam selama musim panas.

