Sebuah laporan berusia satu dekade dari World Economic Forum (WEF) kembali mencuat di ruang kripto, menyoroti pengakuan awal terhadap potensi Ripple dan XRP di sektor perbankan. Para analis mengatakan dokumen tersebut menggambarkan bagaimana jaringan terdesentralisasi seperti Ripple dapat memungkinkan institusi menyelesaikan pembayaran lebih cepat dan lebih langsung di masa depan.
Seorang analis pasar kripto yang diidentifikasi sebagai 'SMQKE' di X baru-baru ini menghidupkan kembali laporan WEF 2015, memicu diskusi segar di komunitas kripto. Dokumen tersebut mengeksplorasi bagaimana bank tradisional dapat berinteraksi dengan teknologi pembayaran yang muncul, dan secara khusus menyebutkan perusahaan tersebut sebagai sistem yang mampu mengubah penyelesaian antarbank.
Laporan WEF mengungkapkan bahwa, seiring metode pembayaran alternatif, seperti jaringan terdesentralisasi, tumbuh popularitasnya di seluruh dunia, bank memiliki kesempatan untuk mengintegrasikannya ke dalam layanan mereka. Dengan mengadopsi teknologi ini, institusi dapat memudahkan pelanggan untuk memindahkan nilai masuk dan keluar dari jaringan non-tradisional sambil juga mengeksplorasi produk keuangan baru. Ripple disebutkan sebagai contoh protokol yang dapat berfungsi sebagai salah satu jalur alternatif ini.
Selain penggunaan pelanggan, jaringan ini juga dapat meningkatkan cara bank beroperasi secara internal. Dengan memanfaatkan jaringan non-tradisional, bank dapat menyederhanakan proses dan menawarkan produk dan layanan yang lebih lancar dan lebih cepat. Protokol Ripple, misalnya, meningkatkan proses ini dengan memungkinkan penyelesaian real-time antara bank, menghilangkan kebutuhan untuk lembaga kliring tradisional atau bank koresponden.
Sebuah studi kasus dalam laporan WEF berfokus pada Fidor Bank yang berbasis di Jerman, sebuah bank layanan lengkap online yang mengimplementasikan perusahaan pembayaran tersebut untuk operasi penyelesaian internalnya pada tahun 2014. Menurut World Economic Forum, adopsi Ripple yang lebih luas dapat memungkinkan bank lain menyelesaikan pembayaran secara instan satu sama lain. Contoh awal ini menunjukkan bagaimana perusahaan pembayaran kripto tersebut sudah dipandang sebagai alat praktis untuk meningkatkan efisiensi perbankan.
Meskipun laporan WEF sudah berusia lebih dari satu dekade, wawasannya tetap relevan karena institusi keuangan terus mengeksplorasi solusi pembayaran berbasis blockchain. Khususnya, ini bukan pertama kalinya World Economic Forum menyebutkan Ripple dalam laporannya. Dalam laporan Mei 2025-nya, organisasi internasional tersebut menyoroti Ripple dan XRP Ledger (XRPL) sebagai teknologi kunci dalam masa depan tokenisasi aset.
Sebagai token asli dari XRP Ledger (XRPL), XRP dirancang untuk berfungsi sebagai jembatan digital untuk pembayaran lintas batas yang cepat dan berbiaya rendah antara institusi keuangan. Dengan memanfaatkan XRPL, Ripple memungkinkan bank dan penyedia pembayaran menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik, bukan hari.
Karena throughput tinggi dan kemampuannya menangani volume transaksi besar dengan upaya minimal, XRP Ledger tampak sangat cocok untuk kebutuhan perbankan modern. Efisiensi dan kecepatannya telah membuat banyak orang membandingkan Ripple dengan SWIFT, jaringan pesan lama yang digunakan oleh bank di seluruh dunia untuk transfer internasional.


