Cryptoharian – Seorang tentara cadangan Israel didakwa melakukan spionase untuk Iran setelah diduga membocorkan informasi sensitif terkait sistem pertahanan Iron Dome dan data keamanan lainnya.
Melansir dari salah satu media internasional, tersangka yang ditetapkan bernama Raz Cohen asal Yerusalem. Dia ditangkap setelah penyelidikan bersama antara Unit Kejahatan Internasional Kepolisian Israel dan Badan Keamanan dalam Negeri, Shin Bet.
Menurut pihak berwenang, Cohen menjalin kontak dengan agen intelijen Iran selama beberapa bulan. Dalam periode tersebut, ia menerima instruksi untuk menjalankan sejumlah tugas, termasuk mengirimkan informasi sensitif terkait militer Israel.
Sebagai imbalan, Cohen dilaporkan menerima sekitar US$ 1.000 dalam bentuk kripto.
Dalam dakwaan yang diajukan di Pengadilan Distrik Yerusalem, Cohen disebut telah:
Pihak berwenang menegaskan bahwa Cohen mengetahui bahwa ia berkomunikasi dengan agen Iran, namun tetap menjalankan instruksi yang diberikan.
Ancaman Hukuman Berat
Cohen kini menghadapi sejumlah tuduhan serius, termasuk membantu musuh saat perang dan menyampaikan informasi yang dapat membahayakan keamanan negara.
Baca Juga: OJK Tutup Layanan Penyimpanan Kripto PT Tennet
Jika terbukti bersalah, ia bisa menghadapi hukuman sangat berat, termasuk penjara seumur hidup bahkan hukuman mati, meskipun opsi terakhir sangat jarang diterapkan.
Menariknya, sebagian aktivitas yang dituduhkan terjadi sebelum konflik terbaru berlangsung, namun tetap dianggap ancaman serius terhadap keamanan nasional.
Peringatan dari Otoritas
Pihak kepolisian dan Shin Bet juga mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait meningkatnya upaya perekrutan oleh agen asing.
Mereka menduga bahwasanya agen dari negara lawan mencoba untuk merekrut warga. Selain itu, media sosial menjadi salah satu jalur utama pendekatan, serta imbalan finansial termasuk kripto, sering digunakan sebagai umpan.
Otoritas mengingatkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas seperti ini, baik disadari atau tidak, dapat berujung pada konsekuensi hukum yang sangat berat.
Kasus ini kembali menyoroti penggunaan aset kripto dalam aktivitas ilegal lintas negara. Sifatnya yang cepat dan relatif sulit dilacak menjadikannya alat yang kerap digunakan dalam operasi seperti ini.

